just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Archive for April, 2011

Customer Service Professional

You are a customer service agent working for a national furniture retailer. The companies wants to set service standard because some customer have complained recently. Following a TV advertising campaign, sales or certain sofas and beds increased dramatically. How ever the furniture manufacturer could not meet the delivery deadlines (within six weeks). Not only that, when complaints were made they were not handled well and some customers then canceled their others.
Give your views on what service standard could be put into the places! Write down 3 service standard wich would be relevant! For each one describe what actions would need to be taken to make sure the company can meet these service standard.

Segala yang sudah terjadi, mungkin saja memang sebuah kesalahan dan tidak mungkin bisa diulang untuk diperbaiki. Tapi kita harus percaya bahwa segalanya bisa diperbaiki pun dari mempelajari kesalahan. Meski Pengusaha Furnitur “katakanlah” telah gagal memenuhi target pengiriman barang dalam waktu 6 minggu, kita tetap bisa memenuhi pesanan itu. Berikut 3 langkah strategis yang bisa diterapkan :

Pertama, lakukan pendekatan kepada customer dengan menjelaskan kondisi teknis yang mungkin terjadi. Lakukan dengan bijak, karena persepsi pelanggan adalah raja memang benar. Berikan jaminan kepada pelanggan bahwa kita akan memperbaiki sistem dan mempercepat proses produksi sehingga target 6 minggu tadi bisa terpenuhi. Cara internalnya, kita harus memberikan target pula kepada karyawan kita untuk membantu agar proses tersebut berjalan dengan baik, tidak perlu keras, lakukan dengan bijaksana dan beberapa pengertian kepada karyawan mengenai target produksi. Tingkatkan mutu karyawan (bukan hanya mutu produk) dengan memberikan pelatihan khusus.

Kedua, Lakukan perluasan jaringan pelanggan. Istilahnya, kita lakukan promosi agar banyak yang mengenal produk furnitur kita. Ketika posisi sulit menghadang, seperti pelanggan yang rewel tidak jadi beli karena sebuah masalah, kita tidak perlu terlalu panik karena kehilangan pelanggan. Kita tetap merangkul pelanggan lain, sambil tentunya kita usahakan pelanggan rewel tadi tetap merasa puas terlayani. Caranya mungkin dengan memberikan jaminan khusus seperti langkah pertama tadi. Keseimbangan jumlah pelanggan juga sangat penting, jadi kita tidak perlu bergantung pada satu pelanggan saja.

Ketiga, Peningkatan Sarana dan Prasarana Produksi. Tidak dapat dipungkiri ketika proses produksi dan bahkan pengiriman terhambat terjadi karena masalah sarana dan prasarana pendukung yang tidak memadai. Lakukan perbaikan secara berkala pada mesin-mesin produksi dan kendaraan pengangkut. Jika kita kekurangan dana, mungkin bisa melakukan sejumlah kesepakatan dengan pemodal / kredit bank untuk membantu. Hasil tentu sudah bisa kita banyangkan jika target mencapai titik pusatnya (penjualan berhasil). Lakukan kredit dengan rasional dan sesuai kemampuan keuangan kita jika produk sudah terjual, sadari resikonya.

Tapi, jika harus memilih satu rencana yang paling sesuai, yah urutkan saja dari yang paling pertama. Langkah pertama paling relevan jika harus diterapkan, kedua menguatkan dan yang ketiga semakin mengokohkan posisi.

Actually, that wasn’t my own homework. But, I think it’s really interesting when a friend ask me to help her, giving my own opinion about her homework “Customer Service Professional”. That’s my own opinion about S.O.P (Standard Operational Procedure), yep I call it S.O.P because it sounds like we should solve any problems when we had a business. I give her 3 points above and she said “Imagine, I never think what you’ve thinking about”. LOL, thanks if it useful 😀

Sedikit Kenangan

Minggu lalu, saya begitu iseng dan ngga ada kerjaan. Daripada bengong, nanti ayam tetangga ada yang mati (eh – abaikan), hehehe. Saya coba beres-beres buku di gudang yang lumayan banyak dan udah ngga karuan ke urus, berdebu pula. Sebenernya saya lumayan males buat beresin tumpukan buku itu, tapi entah kenapa hari Minggu itu berasa ingin saja.

Baik, sekilas info saja. Tumpukan buku tersebut sebenarnya sudah hampir dibuang atau bahkan mau dijual ke tukang barang bekas oleh Ibu saya, tapi saya larang terus. Alasan Ibu karena saya terlihat kurang perhatian dan daripada bertumpuk terus ngga berguna, mending dijual. Tapi yah itu, entahlah agak sulit menjelaskan keinginan hati menyimpan buku-buku tersebut. Sebenarnya tumpukan buku itu cuma buku-buku tulis saya selama sekolah, mungkin dari SD juga ada kali. Buku-buku paket pelajaran dan bacaan lain terkadang sudah langsung ada yang meminta, nah kalo itu saya setuju. Karena ilmu yang ada di buku paket bisa bermanfaat ke pelajar generasi bawah saya. Tapi masih ada juga sih sebagian yang tersisa.

Dulu saya ingat, begitu rajin saya beli buku karena memang senang sekali baca buku. Imaginasi begitu luas dan tidak ada yang membatasi diri saya ketika sedang serius membaca, berbeda dengan nonton film yang cenderung kita diarahkan oleh sang sutradara untuk mengikuti alur yang diarahkannya. Saya suka juga sih nonton film, tapi tetap selektif!. Kebiasaan baca buku sebenernya ketularan dari ortu, atau mungkin semacam “racun” yang didoktrinkan sejak saya kecil. Dulu sebelum sekolah, saya ingat Ibu pernah membelikan saya majalah anak-anak, di sana ada cerpen tentang Air yang sampai sekarang tetap terngiang di lintasan pikiran dan memori saya. Judul cerpennya “Kisah Si Titik Air”.

Belum bisa baca, tapi saya paksa Ibu buat bacakan cerpen itu berulang-ulang setiap malam. Sampai saya hafal waktu itu, sekarang masih ingat juga sih, tapi cuma sebatas gambaran umum saja. Jadi cerpen itu berkisah tentang perjalanan setitik mata air dari asalnya di dalam tanah, terangkat lewat kran, terminum, kembali ke tanah, terpakai mandi dan sebagainya sampai akhirnya Si Titik air itu berlabuh ke laut tidak kembali. Betapa bermanfaat air, begitu kira-kira pesan cerpennya. Ya Allah, seandainya ada mesin waktu, saya rindu saat itu. Benar-benar rindu, terkadang sering merenung dan sedih tanpa sebab ketika waktu saya sudah terlewati begitu banyak.

Well, kita kembali ke beres-beres gudang. Hampir mirip sih, mengenang masa lalu kembali. Kadang inilah bagian yang paling saya benci menjalani hidup, mengenang masa lalu. Demi Allah, saya tidak ingin terlalu bersedih memikirkan masa lalu, hidup adalah untuk masa depan, walau tetap harus belajar dari masa lalu. Basi!!! yah, katakanlah begitu, tapi saya begitu percaya dan selalu menjalani konsep dan prinsip tersebut.

Sebuah buku tulis bersampul cukup bagus, bahkan cenderung masih bagus saya temukan diantara tumpukan yang lain. Begitu menarik, Bimbingan Konseling. Hey, don’t judge the book by it’s cover, hehehe. Saya buka perlahan dan tertulis tahun 2004. Ohh… memori menerawang kembali pada saat saya kelas 8 SMP (Kelas 2), tidak terlalu ingat awalnya. Saya buka kembali beberapa halaman berikutnya dan saya mulai tersenyum, entahlah dalam hati terasa tangisan yang membahagiakan. Banyak catatan BK yang sifatnya pertanyaan-pertanyaan pribadi yang begitu menggelikan ketika saya baca ulang.

Cerita tentang pengalaman berpacaran ketika SMP pun ada, hehehe -jadi malu-. Saya ingat, saya ingat semuanya. Saya ingat ketika itu Guru BK saya, Pak Saman meminta saya dan teman-teman untuk membuat semacam sebuah catatan seperti diary dan keinginan, agak aneh sih anak jaman sekarang buat diary, apalagi laki-laki, mungkin jarang atau mungkin ada? saya kurang tahu pasti. Tapi yang pasti, hal itu cukup bermanfaat ketika kita sedang bermasalah dengan apa pun, percayalah mengurai emosi lewat tulisan begitu menyenangkan. Apalagi ketika kita sering merasa dikecewakan orang lain, maksudnya ketika kita curhat, tapi masalah malah tambah banyak dengan bocornya rahasia tersebut. Saya termasuk diantaranya, begitu alasan saya pada Pak Saman waktu itu dan saya masih ingat bagaimana mengatakannya.

Ada satu hal menarik lagi, hmm… menarik ngga yak? hehehe… Bagi sebagian pelajar, Ruang BK/BP adalah tempat yang cukup menankutkan untuk dikunjungi, dulu saya juga berfikir begitu. Abis kalo keliatan dari luar, cuma anak bandel yang terus menerus dipanggil guru BK dan bolak-balik kesana. Kesannya kayak penjara gitu, yang salah kena hukuman. Tapi setelah saya dipanggil guru BK karena suatu masalah, saya seterusnya malah sering berkunjung meski tanpa masalah. Ketika itu, teman saya Desi Twiwijayanti membawa ular karet, yang konturnya benar-benar mirip dengan ular sungguhan, serius tidak bohong, yang baru pertama kali liat pasti akan langsung kaget dan nyangka itu ular beneran. Nah, muncullah ide iseng buat ngerjain orang yang masuk ke dalam kelas dari luar, kebetulan saya duduk di kursi nomor 3 dekat pintu, jadi agak mudah buat ngelempar.

Dan tibalah Ibu Ai masuk kelas, guru Bahasa Indonesia yang memberikan saya nilai 5 saja di raport (selanjutnya jadi 9 setelah minta maaf). Dengan santai dan isengnya anak SMP, saya lemparlah ular karet milik Desi itu ke depan Ibu Ai, dasar anak bandel 😀 . Spontan Ibu Ai langsung kaget dan mempermasalahkan hal tersebut, terseretlah pertama kali saya ke Ruang BK (DUILLEEEE bahasanya, terseret. hahaha). Dan Desi pun ikut ikut dalam masalah tersebut karena dia pemiliknya (kasian bener, ngga tau apa-apa padahal). Well, justru dari hal itu saya sangat berterima kasih dengan Desi dan Ibu Ai, wah kangen sama kalian deh pokoknya. Sumfeh!!

Banyak hal menarik yang membuat saya duduk di atas debu tanpa sadar dan senyum-senyum sendiri di gudang, karen buku tulis itu. Selanjutnya saya tidak akan meminjamkan buku itu pada siapa pun, karena itu bener-benar catatan dosa dan kebodohan yang -sangat- konyol, malu juga sih. Berlanjuta terus tanpa sadar sudah hampir 1 jam saya duduk membaca buku itu sambil membayangkan kembali situasi saya saat kelas 8. Dulu waktu SMP, saya pernah bilang pada seluruh teman-teman, pengalaman paling menarik dan indah ada di kelas 8 itu, entahlah. Nanti akan saya ceritakan, yang menurut sebagian orang justru buruk sekali saya di kelas tersebut. Maklum lulusan kelas 7.1 alias kelas super unggulan :p.

Sampai pada beberapa halaman terakhir, ada kotak berisi nama seluruh teman sekelas saya di 8.4, dan saya langsung ingat tanpa harus membaca, hahaha. Itu lucu sekali, karena di sana adalah momen tersedih saat itu karena dekat dengan kenaikan ke kelas 9. Di sana ada kotak berisi kesan dan pesan teman-teman terhadap saya karena sebentar lagi akan pisah kelas. Pertanyaan stabdar, apa pendapat kamu tentang saya dan apa yang sebaiknya saya lakukan di kelas 3 nanti. Percayakah anda bahwa 100% teman sekelas saya mencantumkan kana “Pintar” di kolom pendapat?

Menurut mereka begitu, saya pelajar pintar, eh ini pintar pelajaran yakkk bukan pintar yang lain, tapi serius nih bukan sombong, saya memang tidak pernah keluar dari ranking 3 besar selama SMP. Bahkan cenderung jadi favorit guru, sering dikasih buku gratis dari guru karena mereka tahu saya suka baca, makasih ya bapak ibu guru semua, I lop yu pul dah.

Setelah diamati, waktu itu saya protes ke teman-teman yang lain, koq mereka kompakan kasih pendapat begitu. PLease lah ditambah komen yang lain, dan akhirnya pada sewot semua. Saya ingaaaaaat semua itu dan sungguh kangen. Sebetulnya sih sudah ada komen lain selain pintar, misalnya dibilang playboy lah (busehhh… bocah SMP dibilang playboy, ngaco emang itu temen SMP semua). Duh, kemanakah Arief teman semeja saya? Rizal, Novel, Desi, Musa, Ika, Dewi, Febrianti, Febriana, Agus, dan semuanya… Ya Allah, do’a saya semoga semua teman-teman dalam keadaan baik dan sukses, amien.

Yang paling membuat saya sedih adalah komentar dari Almarhumah Nok Riyah, salah satu teman terdekat saya ketika itu. Kebetulan waktu kelas 7 kami sekelas, jadi begitu masuk kelas 8 kami langsung akrab. Beliau meninggal ketika kami kelas 9 dan itu juga momen paling menyedihkan bagi saya. Sekarang cuma do’a saja yang bisa saya kirimkan ke beliau, walau mungkin Allah sudah menyampaikan padanya bahwa saya begitu menyanyangi dia sebagai sahabat dan selalu mendo’akan yang terbaik baginya. Iyah (panggilan beliau) bilang “Zar, jangan lupa makan yak, kamu kurus banget! Nanti kelas 3 harus lebih gemuk dari ini, supaya lebih pintar”. Huhu, sedih bacanya (masih ada terusannya padahal).

Huh, ngga kerasa udah mengenang memori masa lalu lewat sebuah buku, cuma buku tulis doang padahal, tapi itu harta saya yang tidak ternilai, setiap momen yang saya lalui adalah harta berharga. Mungkin teman-teman juga? Yah… setidaknya manfaatkanlah waktu kalian dengan baik, jika tak ingin ada penyesalan nantinya. hmm… banyak sekali perubahan yang terjadi pada saya setelah masa-masa SMP, bukan hanya fisik tapi karakter dan sikap juga sih katanya, semoga itu lebih baik. Padahal saya merasa begini-begini saja dari dulu, tidak ada yang spesial, bahkan jadi bodoh karena terlalu sibuk memikirkan banyak hal, ah… dewasa membuat saya banyak pikiran.

Well, salam semangat, semoga semua selalu dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Fight!

Rindu Biru

kau tahu biru?
beberapa hari terakhir aku begitu benci kimia
reaksi itu membuat ku tak biasa
ada rasa rindu

kau tahu biru?
aku tak ingin berubah ketika dewasa
tapi reaksi kimia memaksa
karena ada kamu

tak ingin ku salahkan waktu
karena kimia meliputi dunia, pun rasa
tapi waktu membawamu tak terjamah
pada jarak terjauh

biar ku simpan saja rasa rindu
karena aku tahu kau merasakan hal sama
kimia yang mengatakan perubahan hatimu atas kebekuan
aku rindu, lalu ku tunggu

Hukum Kekekalan Energi

“Energi di dunia ini bersifat tetap dan tidak akan diciptakan lagi, juga tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah berubah bentuk”.

Saya jadi berfikir tentang hukum tersebut, jika memang energi tidak akan pernah hilang, maka tentu energi yang kita keluarkan di waktu lampau masih ada dong? tapi wujudnya apa ya?

Semisal, ketika kita dilahirkan waktu bayi, pasti menangis. Nah, tangisan mengeluarkan suara dan suara sendiri adalah salah satu bentuk energi. Kemanakah larinya suara kita ketika bayi itu? Seperti apa bentuknya sekarang, jika memang energi suara tersebut telah berubah bentuk?

Wah, pertanyaan begitu banyak, tapi bingung juga jawabnya. Apa ada ya alat yang bisa menangkap energi yang kita keluarkan di waktu lampau? Jika belum ada, sanggupkah dibuat manusia? hmm… menarik untuk difikirkan! Ada yang ingin membuatnya?