just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Archive for October, 2011

Biru, Warna Hujan.

Hujan, entah bagaimana harus menyikapi fenomena alam ini. Aku sadar, aku tahu dan selayaknya bersyukur atas hujan, karena ialah rizky Allah yang paling ditunggu ketika kemarau panjang melanda bumi. Aku ingat, lalu tersenyum kecil ketika mendengar percakapan dua orang dosenku ketika jeda perkuliahan, Pak Bima bertanya yang mungkin menurutku adalah sebuah basa-basi pemecah kekakuan antar kedua dosen itu “Pak Felix, sudah dapat hujan di sekitar rumah?”. Mendengar pertanyaan itu membuatku tersenyum, sederhana tapi begitu dalam di pikiran. Rupanya hujan musim ini yang menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) datang terlambat bagi sebagian daerah di Indonesia, sangat ditunggu. Termasuk Pak Bima dan Pak Felix yang kemudian senyum sumringah ketika bercakap-cakap kali itu hujan turun dengan lebatnya. Yah, mereka sepertinya bersyukur atas rizky hujan tersebut.

“Ya, udah turun 1 kali di rumah, tapi tidak tau kalau sekarang bagaimana” Pak Felix kemudian menjawab seadanya karena dia memang tak tahu pasti kondisi rumahnya di Bekasi. Kemudian aku menjauh dari percakapan yang tak terlalu ku dengar tersebut, karena dari awal aku memang tak sengaja mendengarnya. Seperti lancang, namun jujur aku memang tidak sengaja, karena posisi ku tepat berada di samping keduanya sehabis sholat maghrib dan kemudian memakai sepatu kats hitam yang baru ku beli awal bulan lalu. Tidak terlalu penting.

Seperti biasanya, aku sering kali tidak fokus bagaimana menggambarkan pikiranku melalui tulisan, tapi aku terus belajar. Dan mari kita kembali ke hujan, rizky Allah yang ku katakan selalu aku tunggu, karena di sana, saat hujan turun, aku selalu teringat akan satu hal, Biru. Aku ingat kala itu gerimis, kemudian hujan, saat itulah aku mengenal Biru untuk pertama kalinya. Sejujurnya, bisa dikatakan ini seperti keajaiban hujan karena pertama kali aku melihat Biru dan belum mengenalnya, saat itu hujan. Di tahun 2003 itu, ku ingat dia berpayung bersama seorang pria dewasa yang kemudian ku tahu itu ayahnya.

Pernah dulu aku tulis dalam makna bias, aku mengungkapkan rasa di hati pada Biru, disebuah bilik kecil saat menunggu hujan. Tenang saja, bilik itu seperti sebuah posko ojek yang banyak di pinggir jalan dan tentu banyak orang lalu lalang, walau tak ku pungkiri dalam bilik itu hanya aku berdua dengan Biru. Romantis, satu kata yang bisa ku gambarkan. Tak sangka, tubuhku hangat karena ada udara di tengah dada dan dia terus berputar tanpa bisa keluar, sesak sesaat. “Kamu tau ngga? Aku udah lama nunggu kamu bilang gitu, bahkan aku berencana bilang duluan. Karena kamu kelamaan!” Jelas Biru panjang lebar yang sangat cukup menjadikan aku patung batu. Bodoh, mengapa aku tak peka dan tak pernah sadar itu? Biru menaruh hati juga padaku. Cinta monyet, jangan terlalu dipikirkan.

2008, sejujurnya aku tak ingin ingat tahun dimana kamu lebih memilih mengikuti panggilan-Nya. Seperti separuh jiwa hilang, ah maaf sepertinya berlebihan, tapi sungguh sakit rasanya. Tapi aku senang, karena Dia pasti lebih baik menjagamu dari pada aku, aku yakin itu. Aku juga percaya kamu begitu bahagia di dunia baru mu itu. Karena kamu selalu tersenyum dalam beberapa mimpiku, Alhamdulillah akhirnya aku juga merasa bahagia.

Biru, kamu pasti ingat bahwa saat Dia memintamu pulang, langit pun ikut bersedih, hujan begitu derasnya. Berhadapan dengan wajahmu yang pucat, kamu tak nampak seperti Biru warnaku yang terang. Biru, dihatiku seperti ada hujan badai yang begitu memporak-porandakan segalanya, yang aku prediksikan bahwa itu akan sulit untuk diperbaiki. Dan ternyata Biru, rizky Allah itu membawaku pada rasa yang seharusnya tak ku syukuri, kepergianmu. Sedih!.

Hujan malam ini, seperti mengaduk-aduk pikiran dan rasaku. Aku duduk terdiam di sebuah halte bus dekat kawasan Epicentrum Setiabudi, tempat dimana aku beraktifitas sehari-hari, baik itu mencari nafkah atau menuntut ilmu. Aku terpaku tanpa berbuat sesuatu, menunggu hujan reda untuk kemudian berangsur pulang menaiki bus yang tak kunjung datang, 1 jam lebih aku pikir. Dan kau tahu Biru?, rintikan hujan itu seperti ratusan huruf yang tersusun rapi membentuk kata yang selanjutnya menjadi kalimat bercerita. Aku tak mau lihat dan aku tak mau baca, tapi suara rintik hujan yang jatuh juga bagai paduan suara yang berteriak membaca tulisan itu, keras sekali. Aku terganggu, karena itu cerita tentangmu Biru, tentang kita kala hujan dan aku duduk termangu sendiri.

Seandainya hujan juga bisa menyampaikan pesan, aku ingin nenitipkan pesan untuk kemudian disampaikan kepadamu. Biru, dikala hujan tadi sejujurnya aku bersama warna baru ku. Maksudku, aku sedang berjanji menunggunya untuk pergi bersama menikmati malam jelang akhir pekanku, yah… berdua saja. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk rencana malam ini. Apa kamu cemburu? Maaf jika begitu, tapi aku pikir kamu juga ikut andil atas bertemunya aku dengan warna baru ku itu. Aku menemukan diriku yang lain, aku bersemangat kembali seperti aku bersemangat saat bersamamu dulu. Tapi tak pernah ku bandingkan kalian, karena rasa bahagia tak pernah bisa ku bandingkan.

Salamku Biru.

Surat Untuk Biru

inspirasi, kemana saja kau? kau buat aku masih betah menunggu, diam tanpa berbuat sesuatu. tapi tidak satu, aku rindu biru.

teman-teman ku bertanya “apa sih biru itu?”, ku jawab dengan bangga “biru itu masa lalu, kala kita berseragam biru”.

kata biru “kabar ku baik, aku juga merindukanmu, merindukan kita kala berseragam biru”. seperti biasa, aku balik bertanya, “berarti kau ingat semua, biru?”. kau biru, mengangguk sebagai pertanda “Ya”, sejenak kemudian ada udara hangat berputar kencang, hampa di rongga dada. sesak, seperti sulit bernafas, tapi aku senang biru.

tapi biru, aku berfikir satu hal di antara kita, ada kah peluang berjumpa kembali denganmu?. ku ingat terakhir kali, kau sudah pada jarak terjauh, tak tersentuh. kau biru, di luar benua ku.

jika benua mu Australia, itu dekat, aku tahu itu biru. aku bisa saja menyusulmu, tapi kau juga tahu bahwa itu bukan tujuanku. bisakah kau kembali?

lagi, aku menertawakan kebodohanku, mempertahankan kita, mempertahankan kau biru, duniamu yang baru tentu lebih menarik untuk kau selami. melebihi aku.

sebetulnya, tak ada yang berubah dari duniaku, duniaku begini. aku ingat kau tak suka ku kenalkan pada duniaku. maka teman-teman berkata aku tak asik karena keluar dari duniaku, semua karena kau biru. aku tersenyum saja.

aku sadar ada sekian banyak warna, tapi aku pilih kau, biru. sungguh aku merindumu, pulang dan duduk di bawah pasir pantai berdampingan, bermain air dan roda karet yang kita janjikan, seperti dulu.

Hello Octobre!

Hello Octobre!
Wah, telat karena sudah lewat dari tanggal 1 dan sekarang tanggal 10 Oktober. Lama rasanya saya tak pulang kemari, bertegur sapa pada hati dalam rumah ini, pun tetangganya. Canggung! begitulah saya deskripsikan diri untuk memulai kembali kata dalam rumah ini, tak terlalu penting, hanya sekedar menuangkan gundah gulana dalam pikiran (apa siiiih, koq serius?).

Hmm… sedikit bercerita ke belakang, saya (sok) sibuk dengan beberapa aktifitas. Menjalani fase terberat dalam hidup, yang sudah saya luapkan pada halaman Tumblr saya. Memupuk kembali rasa percaya diri, mengembalikan semua yang sempat hilang sementara waktu, pun cinta itu yang masih datang setelah 3 tahun menghilang. Kemanakah dia?
Mengutip pernyataan Guntur Kikan yang di tulis pada Kompasiana :

“Cinta sejati itu kekuatan antara dua hati. Mata dan pikiran tak pernah bisa menyadari datangnya cinta sejati, hanya hati yg bisa!”

*Glekk!* Seperti tersedak begitu dalam ketika saya menyadari ada Cinta yang lain dan tumbuh subur selama ini, setidaknya 3 tahun setelah kami bertemu.

Saya, Izar, menyatakan diri telah berlaku tidak adil bagi pasangan saya selama ini, yang sudah terjalin sejak SMP. Saya mencoba memunculkan rasa cinta yang lain dengan wanita yang baru saja saya kenal 3 tahun lalu, sebut saja Ms. Em. Mengenal Ms. Em memang kebahagiaan tersendiri bagi saya, setiap hari saya terasa lebih aktif, cerdas dan nyaman. Ms. Em membuat saya tidak membatu, kebekuan dan kekakuan saya cair begitu saja tiap kali bertemu Ms. Em.

Dia begitu aktif, setiap hari ada saja yang saya tunggu dari dia, entah pertanyaan iseng dari dia, joke segar yang selalu membuat saya tersenyum. Tapi, apakah dia tahu bahwa saya jatuh cinta padanya? rasanya tidak mungkin, mengingat Ms. Em mengenal saya begitu baik, pun seorang kekasih yang selama ini menemani hidup saya. Yah, Ms. Em tahu bahwa saya sudah memiliki pacar.

Malam minggu lalu, setelah sekian lama tidak bertemu, ada semacam reuni kecil, berdua. Obrolan berawal dari beasiswa ke luar negeri yang sedang Ms. Em cari. Ayahnya bercerita bahwa dia tidak boleh keluar dari Indonesia, pun untuk melanjutkan pendidikan, entah apa yang ada dalam pikiran Ayah beliau, tapi saya pikir itu akan menjadi sesuatu yang baik, tertama bagi Ms. Em. Saya sebagai orang luar yang peduli terhadap Ms. Em, hanya bisa memberikan saran dan ternyata saran saya sangat diterima serta dijadikan acuan olehnya, tentu saya senang.

Entah darimana munculnya, sepertinya Ms. Em sudah merencanakan semuanya, seperti topik pembuka di awal tadi, lanjut menanyakan kabar pacar saya dan selalu dipuji olehnya bahwa betapa beuntung si pacar telah memiliki saya. Mengkerut dahi ini, apakah itu artinya? Ahh, itu hanya rasa berlebih saja, tidak mungkin wanita secantik dan secerdas dia bisa dengan mudah “jatuh cinta” kepada saya. Pikiran ini rasanya sudah tidak sinkron dengan hati, kedua hal sama besar keinginannya.

“Aku sayang sama abang…” singkat, dan saya terdiam.
“Semua orang punya rasa sayang kan, Em?” buru-buru saya menyanggah, karena tak ingin berharap lebih. “Iiiih, abang… ngga ngerti banget sih, aku suka sama abang, aku cinta…” terlihat kesal ekspresi wajahnya.

Sejenak saya berfikir bahwa, apakah ini joke dia seperti biasanya, ataukah saya sedang bermimpi bahwa ternyata Ms. Em memiliki rasa yang sama, rasa yang sudah saya simpan selama 3 tahun terakhir?. Rasanya amat tidak lucu jika itu ternyata hanya joke, tapi wajahnya nampak serius, sungguh serius dan tidak biasanya begitu, saya pun mengenal baik karakternya meski tak selalu bertemu, bahkan hampir tak pernah. Saya kembali diam, lalu bertanya “Kamu tahu abang sudah punya pacar, yah… kamu juga tahu bahwa kami LDR. Kenapa begitu? kenapa kamu bisa suka?”. Kali ini justru saya yang terperangkap, saya serius menyelami maksud ungkapan hatinya.

“Abang ngga sadar ya? selama 3 tahun ini kita deket, apa ada hubungan yang kayak kita begini, yang cuma teman biasa. Jujur aku berharap lebih dari abang dan sayang nya aku juga ngerti gimana perasaan pacar abang. Aku ngga mau ngerusak hubungan kalian, tapi aku rela nunggu”. Tiba-tiba rintikan air mata nya turun. Apa saya telah menyakiti dia, bahkan saya sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi. “Eh, kenapa nangis?” Saya benar-benar bingung.

“Ini mungkin terakhir kalinya kita bisa sedekat ini, aku mau menjauh dari kehidupan abang dan pacar abang”, entah kenapa dada ini sesak mendengar perubahan rencananya, awalnya ingin menunggu, kemudian berubah ingin pergi jauh meninggalkan saya. Sungguh saya menyesali diri telah bersikap tidak adil, tapi kali ini bagi Ms. Em. Apakah tindakan saya selama ini telah memberi celah dan peluang untuk cinta yang lain masuk? Sungguh teramat bodoh jika saya tak menyadarinya. Sesak.

Kemudian saya ingat seseorang yang telah mendampingi saya sejak SMP. Saya bimbang, tapi harus memilih. Diberikan oleh Ms. Em waktu sehari untuk memikirkan, saya sudah tahu pasti jawabannya, pun sebelum diberikan kesempatan untuk berfikir. Segera saya meminta maaf kepada Ms. Em, saya tolak cintanya. Setidaknya untuk saat itu, karena saya tak tahu pasti jodoh saya. Saya setia pada pacar, setidaknya rasa di hati sudah penuh olehnya.

Sungguh saya menyesal telah memberikan sikap yang membuat Ms. Em menyalahartikan. Saya cinta dia, saya sayang dia, namun setelah bertanya kembali pada hati lebih jauh. Ternyata saya tidak siap, tidak pantas untuk wanita yang begitu baik memperhatikan diri ini, melebihi pacar sendiri.