just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Biru, Warna Hujan.

Hujan, entah bagaimana harus menyikapi fenomena alam ini. Aku sadar, aku tahu dan selayaknya bersyukur atas hujan, karena ialah rizky Allah yang paling ditunggu ketika kemarau panjang melanda bumi. Aku ingat, lalu tersenyum kecil ketika mendengar percakapan dua orang dosenku ketika jeda perkuliahan, Pak Bima bertanya yang mungkin menurutku adalah sebuah basa-basi pemecah kekakuan antar kedua dosen itu “Pak Felix, sudah dapat hujan di sekitar rumah?”. Mendengar pertanyaan itu membuatku tersenyum, sederhana tapi begitu dalam di pikiran. Rupanya hujan musim ini yang menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) datang terlambat bagi sebagian daerah di Indonesia, sangat ditunggu. Termasuk Pak Bima dan Pak Felix yang kemudian senyum sumringah ketika bercakap-cakap kali itu hujan turun dengan lebatnya. Yah, mereka sepertinya bersyukur atas rizky hujan tersebut.

“Ya, udah turun 1 kali di rumah, tapi tidak tau kalau sekarang bagaimana” Pak Felix kemudian menjawab seadanya karena dia memang tak tahu pasti kondisi rumahnya di Bekasi. Kemudian aku menjauh dari percakapan yang tak terlalu ku dengar tersebut, karena dari awal aku memang tak sengaja mendengarnya. Seperti lancang, namun jujur aku memang tidak sengaja, karena posisi ku tepat berada di samping keduanya sehabis sholat maghrib dan kemudian memakai sepatu kats hitam yang baru ku beli awal bulan lalu. Tidak terlalu penting.

Seperti biasanya, aku sering kali tidak fokus bagaimana menggambarkan pikiranku melalui tulisan, tapi aku terus belajar. Dan mari kita kembali ke hujan, rizky Allah yang ku katakan selalu aku tunggu, karena di sana, saat hujan turun, aku selalu teringat akan satu hal, Biru. Aku ingat kala itu gerimis, kemudian hujan, saat itulah aku mengenal Biru untuk pertama kalinya. Sejujurnya, bisa dikatakan ini seperti keajaiban hujan karena pertama kali aku melihat Biru dan belum mengenalnya, saat itu hujan. Di tahun 2003 itu, ku ingat dia berpayung bersama seorang pria dewasa yang kemudian ku tahu itu ayahnya.

Pernah dulu aku tulis dalam makna bias, aku mengungkapkan rasa di hati pada Biru, disebuah bilik kecil saat menunggu hujan. Tenang saja, bilik itu seperti sebuah posko ojek yang banyak di pinggir jalan dan tentu banyak orang lalu lalang, walau tak ku pungkiri dalam bilik itu hanya aku berdua dengan Biru. Romantis, satu kata yang bisa ku gambarkan. Tak sangka, tubuhku hangat karena ada udara di tengah dada dan dia terus berputar tanpa bisa keluar, sesak sesaat. “Kamu tau ngga? Aku udah lama nunggu kamu bilang gitu, bahkan aku berencana bilang duluan. Karena kamu kelamaan!” Jelas Biru panjang lebar yang sangat cukup menjadikan aku patung batu. Bodoh, mengapa aku tak peka dan tak pernah sadar itu? Biru menaruh hati juga padaku. Cinta monyet, jangan terlalu dipikirkan.

2008, sejujurnya aku tak ingin ingat tahun dimana kamu lebih memilih mengikuti panggilan-Nya. Seperti separuh jiwa hilang, ah maaf sepertinya berlebihan, tapi sungguh sakit rasanya. Tapi aku senang, karena Dia pasti lebih baik menjagamu dari pada aku, aku yakin itu. Aku juga percaya kamu begitu bahagia di dunia baru mu itu. Karena kamu selalu tersenyum dalam beberapa mimpiku, Alhamdulillah akhirnya aku juga merasa bahagia.

Biru, kamu pasti ingat bahwa saat Dia memintamu pulang, langit pun ikut bersedih, hujan begitu derasnya. Berhadapan dengan wajahmu yang pucat, kamu tak nampak seperti Biru warnaku yang terang. Biru, dihatiku seperti ada hujan badai yang begitu memporak-porandakan segalanya, yang aku prediksikan bahwa itu akan sulit untuk diperbaiki. Dan ternyata Biru, rizky Allah itu membawaku pada rasa yang seharusnya tak ku syukuri, kepergianmu. Sedih!.

Hujan malam ini, seperti mengaduk-aduk pikiran dan rasaku. Aku duduk terdiam di sebuah halte bus dekat kawasan Epicentrum Setiabudi, tempat dimana aku beraktifitas sehari-hari, baik itu mencari nafkah atau menuntut ilmu. Aku terpaku tanpa berbuat sesuatu, menunggu hujan reda untuk kemudian berangsur pulang menaiki bus yang tak kunjung datang, 1 jam lebih aku pikir. Dan kau tahu Biru?, rintikan hujan itu seperti ratusan huruf yang tersusun rapi membentuk kata yang selanjutnya menjadi kalimat bercerita. Aku tak mau lihat dan aku tak mau baca, tapi suara rintik hujan yang jatuh juga bagai paduan suara yang berteriak membaca tulisan itu, keras sekali. Aku terganggu, karena itu cerita tentangmu Biru, tentang kita kala hujan dan aku duduk termangu sendiri.

Seandainya hujan juga bisa menyampaikan pesan, aku ingin nenitipkan pesan untuk kemudian disampaikan kepadamu. Biru, dikala hujan tadi sejujurnya aku bersama warna baru ku. Maksudku, aku sedang berjanji menunggunya untuk pergi bersama menikmati malam jelang akhir pekanku, yah… berdua saja. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk rencana malam ini. Apa kamu cemburu? Maaf jika begitu, tapi aku pikir kamu juga ikut andil atas bertemunya aku dengan warna baru ku itu. Aku menemukan diriku yang lain, aku bersemangat kembali seperti aku bersemangat saat bersamamu dulu. Tapi tak pernah ku bandingkan kalian, karena rasa bahagia tak pernah bisa ku bandingkan.

Salamku Biru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: