just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Matematika Masa Biru

Halo Matematika, apa kabarmu?
Dahi tiba-tiba mengkerut, “seperti pernah mengenal nama itu sangat dekat” kata diri dalam hati. Sejenak pikiranku kembali menerawang masa lalu, meyakinkan kata dalam hati, apakah aku benar-benar pernah mengenalnya? bahkan sangat dekat melebihi kedekatan ku dengan nama-nama lain. Matematika, sungguh benar-benar tak asing namun sulit menjelaskan keragu-raguan ini.

Setelah lama pikiranku menerawang, akhirnya ku temukan masa dimana aku bisa mengingat dengan baik saat aku mengenal Matematika begitu intim. Di masa Biru, ya aku sangat yakin di masa itulah aku mengenalnya, ini tidak tentang Biru, ini tentang dirinya, Matematika. Di masa itu, ada senyum bahagia dan pandangan negatif terhadapku, namun Matematika seolah meyakinkan aku untuk tetap melangkah, bersama Biru.

Sore hari sepulang kuliah, aku tergoda untuk berhenti di pinggir jalan dan membeli beberapa potong gorengan yang tak ku makan semua pada akhirnya, ini sungguh tak biasa, karena aku memang tak terlalu suka dengan goreng-gorengan, mungkin sesekali saja. Bukan apa-apa, karena aku termasuk orang yang ringkih dan mudah terserang penyakit jika saja tak melindungi diri dengan melakukan pencegahan, gorengan adalah salah satu musuhku, tapi tetap saja aku coba cari perkara dengan mendekatinya. Entahlah, seperti ada dorongan magis bahwa melanggar pantangan dan aturan adalah titik dimana kita akan menemukan rasa puas. Kepuasan yang lagi-lagi tak terjelaskan dan entah mengapa semua yang tak terjelaskan malah ku tulis yang pada akhirnya membuat Pembaca juga bingung.

Semua tentu tahu bahwa di seluruh dunia yang namanya gorengan pinggir jalan pasti memiliki kertas sebagai pembungkusnya (sudah cukup lebay belum? :D). Nah, di sana ada coretan yang semakin membuat aku bertanya tentang kabar Matematika yang nyaris tak ku temui beberapa tahun terakhir. Bertemu beberapa kali, namun tak intim seperti dulu, di masa Biru. Secarik kertas ajaib yang tak sempat ku foto dan tentu telah membuat aku terdiam sejenak dan kemudian malah lebih asik memandanginya ketimbang menikmati isi didalamnya, Pasukan Gorengan!. Mungkin Pasukan Gorengan akan komplain seperti Ibu ku yang selalu saja berceramah panjang lebar jika makanan ku tak habis “Ya ampun izaaar… Kapan gemuknya kamu, makan sering ngga habis!”. And well, semacam itu mungkin, mungkin dan mungkin. Tapi aku tahu bahwa itu ungkapan rasa sayang Ibu terhadapku, semua Ibu pasti melakukan hal yang sama terhadap anak-anak mereka.

Aku ingat, saat itu Ika, salah seorang teman sekelas ku mendatangi ku dengan membawa selembar kertas kucal yang sudah berminyak, menjijikan tapi ada informasi penting di sana. Ika tergesa-gesa, belum lagi sempat membersihkan keringatnya, Ika langsung saja menjulurkan tangannya yang sedang memegang kertas tersebut ke hadapan wajah ku, “Zaaar… coba liat ini, nama lo, ini kertas ujian lo! Gila sumpah keren banget!”. Yah, aku memang melihat selembar kertas ujian harian, entah apa ya menyebut ini di era kuliah, mungkin kuis? Terserah bagaimana menyebutnya, di sana ada nama ku karena memang itu kertas ujian milikku, lengkap dengan nilai 10, sempurna. Seperti ada tradisi, setiap kali ada kuis, hasilnya memang tak pernah dikembalikan, tahu-tahu ketahuan saja siapa yang akan berpeluang rangking di tiap kelasnya.

Tahap pemanasan sudah sering kali terlewati, termasuk tiap kali aku duduk di perpustakaan sendiri, kemudian menghadapi berbagai pertanyaan negatif dari guru-guru lain “Lhoo… kenapa kamu keluar kelas? Kenapa kamu tidak ikut ujian? Kenapa kamu tidak bersama teman?” Dan berbagai pertanyaan lain yang seolah menyudutkanku, jika saja aku bisa menjelaskan dengan baik keintiman ku dengan Matematika. Namun pada akhirnya semua tahu bahwa aku dekat denganmu Matematika. Sebenarnya Matematika, tak hanya dirimu yang membuatku menghadapi pertanyaan negatif, jadi kamu tenang saja, ini bukan salahmu. Karena Biologi dan Fisika juga teman terbaikku, teman bermain kita di masa Biru, kamu pasti ingat, kan?

Dua buah kado terbungkus rapi, saat itu tergeletak di depan kelas, Ibu Toyum sang mediator antara aku dan Matematika yang membawanya. Salah satu kado itu rencananya akan diberikannya kepada murid tersayang, Aku. Aku pun begitu, sangat menyayangi Ibu Toyum, sampai satu sekolah menjuluki diriku adalah Anaknya Ibu Toyum, hahaha itu lucu. Kemudian kado yang satunya, akan diberikan pada siapa pun yang berhasil menyelesaikan tugas darinya dengan waktu tercepat dan hasil paling baik. Dengan lugunya aku bertanya “Bu, aku boleh ikut?”, “Oohh… tentu saja, ini berlaku bagi semua siswa di kelas 2.4 ini” Jawab Ibu Toyum dengan lembut.

Waktu yang diberikan habis, sebentar saja karena soal yang diberikan memang hanya 3 butir, aku masih ingat dengan baik berapa jumlah soalnya, karena itu memang momen yang sangat berkesan bagi saya. Kemudian semua siswa mengumpulkan tugasnya, Ohya… Sebelumnya Ibu Toyum sudah memberikan tugas ini di seluruh kelas (8 kelas) dan dengan soal yang sama, menurut Ibu Toyum begitu, tapi kami sungguh-sungguh tidak mengetahui atau berusaha mencari soal bocoran dari kelas lain. Yah, kelas 2.4 memang dapat giliran terakhir untuk sesi perebutan kado tersebut. Setelah dikoreksi, wajah Ibu Toyum memancarkan raut kecewa, tebakan ku kali ini, kami semua pasti tidak ada yang berhasil menyelesaikan soal dengan baik. Dan benar saja begitu.

Ibu Toyum kemudian meminta Puput maju ke depan untuk mengerjakan soal yang ditugaskan, Puput adalah siswa rangking 1 di kelas 2.4, kebetulan aku hanya menduduki rangking 2 di semester pertama, padahal nilai rapor ku 8 point lebih tinggi dari Puput, ada yang salah? entahlah, aku ikhlas. Puput selesai mengerjakan kembali tugasnya di papan tulis, dengan senyum khas nya, dia berhasil mengerjakan soal pertama dengan baik dan benar. Kemudian soal kedua, giliranku yang maju untuk melakukan hal yang sama dengan Puput, hasilnya pun sama, benar bagi ku untuk soal kedua. Dan soal ketiga? Ibu Toyum menahan ku sejenak, beliau meminta ku untuk mengerjakannya. Dag dig dug hati ini, kenapa aku kembali yang harus mengerjakannya? Kemudian aku diminta juga untuk menjelaskan mengapa aku bisa menjawab demikian dan bagaimana caranya. Wah…

Maka diumumkan pemenang tugas kali itu dan disebutkan pula bahwa Puput bukanlah yang terbaik. “Apa?” hatiku bertanya. Suara lirih Ibu Toyum berucap “selamat Izar! kamu dapat nilai paling baik diantara semua”. Bengong melanda kelas, sulit dipercaya bahwa Matematika merangkulku begitu dekat dan erat. Dibacakan pula hasilnya bahwa ternyata hanya aku seorang yang benar semua dari 3 butir soal yang diujikan, dan Puput? hanya benar 1 soal saja. “Sepertinya ada yang tidak beres dengan Ibu Toyum” Pikirku kembali dalam hati, aku bingung harus berkata apa, namun dari penjelasan Puput dan aku sendiri di papan tulis, semuanya memang persis dengan jawabanku yang artinya Ibu Toyum memang tidak salah koreksi. Disebutkan pula bahwa ternyata dari seluruh kelas, hanya aku yang berhasil mengerjakan semua soal dengan benar. Best moment!

Well, Matematika… Aku rindu dirimu, tapi aku sadar sulit menggapaimu kembali. Nanti akan aku ceritakan padamu mengapa aku sadar bahwa kamu bukanlah jalanku, namun aku bahagia kamu telah menjadi sahabat terbaikku di masa Biru, tak ada yang lebih baik darimu saat itu, namaku seolah melambung tinggi tak terjangkau olehku sendiri. Sekarang sudah jam 4 pagi lebih, aku mengerjakan tugas semalam suntuk bersama sahabat baruku, masa depanku tersentuh oleh sahabat baruku itu, aku lelah ingin sejenak beristirahat, karena jam 8 pagi aku ada janji dengan sahabatku itu di kelas. Sholat dan kemudian aku tidur, semoga aku bertemu denganmu Matematika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: