just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Posts tagged ‘Biru’

Sembilan Juli 2006

9 Juli, 6 tahun lalu
Kau tentu ingat itu, Biru
Sudah ku pastikan, kau pun hampir marah padaku
Tentang hari ini, yang hampir berlalu

Aku tidak bermaksud begitu
Tapi, aku hampir saja tidak bisa melanjutkan
Kau akan lebih marah lagi, kan?
Jika aku berhenti karena mu

Hari ini aku bertahan
Sedikit keras meski 6 tahun sudah berlalu
Biru, kau tetap yang terbaik, meski harus di sisi-Nya
Lirih ucapku, lalu ku tadah tanganku

“Kau Yang Maha Baik,
aku tahu Biru ku lebih baik jika bersama-Mu.
Berikan tempat terbaik,
seperti dia meninggalkan jejak untuk ku”

Advertisements

Matematika Masa Biru

Halo Matematika, apa kabarmu?
Dahi tiba-tiba mengkerut, “seperti pernah mengenal nama itu sangat dekat” kata diri dalam hati. Sejenak pikiranku kembali menerawang masa lalu, meyakinkan kata dalam hati, apakah aku benar-benar pernah mengenalnya? bahkan sangat dekat melebihi kedekatan ku dengan nama-nama lain. Matematika, sungguh benar-benar tak asing namun sulit menjelaskan keragu-raguan ini.

Setelah lama pikiranku menerawang, akhirnya ku temukan masa dimana aku bisa mengingat dengan baik saat aku mengenal Matematika begitu intim. Di masa Biru, ya aku sangat yakin di masa itulah aku mengenalnya, ini tidak tentang Biru, ini tentang dirinya, Matematika. Di masa itu, ada senyum bahagia dan pandangan negatif terhadapku, namun Matematika seolah meyakinkan aku untuk tetap melangkah, bersama Biru.

Sore hari sepulang kuliah, aku tergoda untuk berhenti di pinggir jalan dan membeli beberapa potong gorengan yang tak ku makan semua pada akhirnya, ini sungguh tak biasa, karena aku memang tak terlalu suka dengan goreng-gorengan, mungkin sesekali saja. Bukan apa-apa, karena aku termasuk orang yang ringkih dan mudah terserang penyakit jika saja tak melindungi diri dengan melakukan pencegahan, gorengan adalah salah satu musuhku, tapi tetap saja aku coba cari perkara dengan mendekatinya. Entahlah, seperti ada dorongan magis bahwa melanggar pantangan dan aturan adalah titik dimana kita akan menemukan rasa puas. Kepuasan yang lagi-lagi tak terjelaskan dan entah mengapa semua yang tak terjelaskan malah ku tulis yang pada akhirnya membuat Pembaca juga bingung.

Semua tentu tahu bahwa di seluruh dunia yang namanya gorengan pinggir jalan pasti memiliki kertas sebagai pembungkusnya (sudah cukup lebay belum? :D). Nah, di sana ada coretan yang semakin membuat aku bertanya tentang kabar Matematika yang nyaris tak ku temui beberapa tahun terakhir. Bertemu beberapa kali, namun tak intim seperti dulu, di masa Biru. Secarik kertas ajaib yang tak sempat ku foto dan tentu telah membuat aku terdiam sejenak dan kemudian malah lebih asik memandanginya ketimbang menikmati isi didalamnya, Pasukan Gorengan!. Mungkin Pasukan Gorengan akan komplain seperti Ibu ku yang selalu saja berceramah panjang lebar jika makanan ku tak habis “Ya ampun izaaar… Kapan gemuknya kamu, makan sering ngga habis!”. And well, semacam itu mungkin, mungkin dan mungkin. Tapi aku tahu bahwa itu ungkapan rasa sayang Ibu terhadapku, semua Ibu pasti melakukan hal yang sama terhadap anak-anak mereka.

Aku ingat, saat itu Ika, salah seorang teman sekelas ku mendatangi ku dengan membawa selembar kertas kucal yang sudah berminyak, menjijikan tapi ada informasi penting di sana. Ika tergesa-gesa, belum lagi sempat membersihkan keringatnya, Ika langsung saja menjulurkan tangannya yang sedang memegang kertas tersebut ke hadapan wajah ku, “Zaaar… coba liat ini, nama lo, ini kertas ujian lo! Gila sumpah keren banget!”. Yah, aku memang melihat selembar kertas ujian harian, entah apa ya menyebut ini di era kuliah, mungkin kuis? Terserah bagaimana menyebutnya, di sana ada nama ku karena memang itu kertas ujian milikku, lengkap dengan nilai 10, sempurna. Seperti ada tradisi, setiap kali ada kuis, hasilnya memang tak pernah dikembalikan, tahu-tahu ketahuan saja siapa yang akan berpeluang rangking di tiap kelasnya.

Tahap pemanasan sudah sering kali terlewati, termasuk tiap kali aku duduk di perpustakaan sendiri, kemudian menghadapi berbagai pertanyaan negatif dari guru-guru lain “Lhoo… kenapa kamu keluar kelas? Kenapa kamu tidak ikut ujian? Kenapa kamu tidak bersama teman?” Dan berbagai pertanyaan lain yang seolah menyudutkanku, jika saja aku bisa menjelaskan dengan baik keintiman ku dengan Matematika. Namun pada akhirnya semua tahu bahwa aku dekat denganmu Matematika. Sebenarnya Matematika, tak hanya dirimu yang membuatku menghadapi pertanyaan negatif, jadi kamu tenang saja, ini bukan salahmu. Karena Biologi dan Fisika juga teman terbaikku, teman bermain kita di masa Biru, kamu pasti ingat, kan?

Dua buah kado terbungkus rapi, saat itu tergeletak di depan kelas, Ibu Toyum sang mediator antara aku dan Matematika yang membawanya. Salah satu kado itu rencananya akan diberikannya kepada murid tersayang, Aku. Aku pun begitu, sangat menyayangi Ibu Toyum, sampai satu sekolah menjuluki diriku adalah Anaknya Ibu Toyum, hahaha itu lucu. Kemudian kado yang satunya, akan diberikan pada siapa pun yang berhasil menyelesaikan tugas darinya dengan waktu tercepat dan hasil paling baik. Dengan lugunya aku bertanya “Bu, aku boleh ikut?”, “Oohh… tentu saja, ini berlaku bagi semua siswa di kelas 2.4 ini” Jawab Ibu Toyum dengan lembut.

Waktu yang diberikan habis, sebentar saja karena soal yang diberikan memang hanya 3 butir, aku masih ingat dengan baik berapa jumlah soalnya, karena itu memang momen yang sangat berkesan bagi saya. Kemudian semua siswa mengumpulkan tugasnya, Ohya… Sebelumnya Ibu Toyum sudah memberikan tugas ini di seluruh kelas (8 kelas) dan dengan soal yang sama, menurut Ibu Toyum begitu, tapi kami sungguh-sungguh tidak mengetahui atau berusaha mencari soal bocoran dari kelas lain. Yah, kelas 2.4 memang dapat giliran terakhir untuk sesi perebutan kado tersebut. Setelah dikoreksi, wajah Ibu Toyum memancarkan raut kecewa, tebakan ku kali ini, kami semua pasti tidak ada yang berhasil menyelesaikan soal dengan baik. Dan benar saja begitu.

Ibu Toyum kemudian meminta Puput maju ke depan untuk mengerjakan soal yang ditugaskan, Puput adalah siswa rangking 1 di kelas 2.4, kebetulan aku hanya menduduki rangking 2 di semester pertama, padahal nilai rapor ku 8 point lebih tinggi dari Puput, ada yang salah? entahlah, aku ikhlas. Puput selesai mengerjakan kembali tugasnya di papan tulis, dengan senyum khas nya, dia berhasil mengerjakan soal pertama dengan baik dan benar. Kemudian soal kedua, giliranku yang maju untuk melakukan hal yang sama dengan Puput, hasilnya pun sama, benar bagi ku untuk soal kedua. Dan soal ketiga? Ibu Toyum menahan ku sejenak, beliau meminta ku untuk mengerjakannya. Dag dig dug hati ini, kenapa aku kembali yang harus mengerjakannya? Kemudian aku diminta juga untuk menjelaskan mengapa aku bisa menjawab demikian dan bagaimana caranya. Wah…

Maka diumumkan pemenang tugas kali itu dan disebutkan pula bahwa Puput bukanlah yang terbaik. “Apa?” hatiku bertanya. Suara lirih Ibu Toyum berucap “selamat Izar! kamu dapat nilai paling baik diantara semua”. Bengong melanda kelas, sulit dipercaya bahwa Matematika merangkulku begitu dekat dan erat. Dibacakan pula hasilnya bahwa ternyata hanya aku seorang yang benar semua dari 3 butir soal yang diujikan, dan Puput? hanya benar 1 soal saja. “Sepertinya ada yang tidak beres dengan Ibu Toyum” Pikirku kembali dalam hati, aku bingung harus berkata apa, namun dari penjelasan Puput dan aku sendiri di papan tulis, semuanya memang persis dengan jawabanku yang artinya Ibu Toyum memang tidak salah koreksi. Disebutkan pula bahwa ternyata dari seluruh kelas, hanya aku yang berhasil mengerjakan semua soal dengan benar. Best moment!

Well, Matematika… Aku rindu dirimu, tapi aku sadar sulit menggapaimu kembali. Nanti akan aku ceritakan padamu mengapa aku sadar bahwa kamu bukanlah jalanku, namun aku bahagia kamu telah menjadi sahabat terbaikku di masa Biru, tak ada yang lebih baik darimu saat itu, namaku seolah melambung tinggi tak terjangkau olehku sendiri. Sekarang sudah jam 4 pagi lebih, aku mengerjakan tugas semalam suntuk bersama sahabat baruku, masa depanku tersentuh oleh sahabat baruku itu, aku lelah ingin sejenak beristirahat, karena jam 8 pagi aku ada janji dengan sahabatku itu di kelas. Sholat dan kemudian aku tidur, semoga aku bertemu denganmu Matematika.

Biru, Warna Hujan.

Hujan, entah bagaimana harus menyikapi fenomena alam ini. Aku sadar, aku tahu dan selayaknya bersyukur atas hujan, karena ialah rizky Allah yang paling ditunggu ketika kemarau panjang melanda bumi. Aku ingat, lalu tersenyum kecil ketika mendengar percakapan dua orang dosenku ketika jeda perkuliahan, Pak Bima bertanya yang mungkin menurutku adalah sebuah basa-basi pemecah kekakuan antar kedua dosen itu “Pak Felix, sudah dapat hujan di sekitar rumah?”. Mendengar pertanyaan itu membuatku tersenyum, sederhana tapi begitu dalam di pikiran. Rupanya hujan musim ini yang menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) datang terlambat bagi sebagian daerah di Indonesia, sangat ditunggu. Termasuk Pak Bima dan Pak Felix yang kemudian senyum sumringah ketika bercakap-cakap kali itu hujan turun dengan lebatnya. Yah, mereka sepertinya bersyukur atas rizky hujan tersebut.

“Ya, udah turun 1 kali di rumah, tapi tidak tau kalau sekarang bagaimana” Pak Felix kemudian menjawab seadanya karena dia memang tak tahu pasti kondisi rumahnya di Bekasi. Kemudian aku menjauh dari percakapan yang tak terlalu ku dengar tersebut, karena dari awal aku memang tak sengaja mendengarnya. Seperti lancang, namun jujur aku memang tidak sengaja, karena posisi ku tepat berada di samping keduanya sehabis sholat maghrib dan kemudian memakai sepatu kats hitam yang baru ku beli awal bulan lalu. Tidak terlalu penting.

Seperti biasanya, aku sering kali tidak fokus bagaimana menggambarkan pikiranku melalui tulisan, tapi aku terus belajar. Dan mari kita kembali ke hujan, rizky Allah yang ku katakan selalu aku tunggu, karena di sana, saat hujan turun, aku selalu teringat akan satu hal, Biru. Aku ingat kala itu gerimis, kemudian hujan, saat itulah aku mengenal Biru untuk pertama kalinya. Sejujurnya, bisa dikatakan ini seperti keajaiban hujan karena pertama kali aku melihat Biru dan belum mengenalnya, saat itu hujan. Di tahun 2003 itu, ku ingat dia berpayung bersama seorang pria dewasa yang kemudian ku tahu itu ayahnya.

Pernah dulu aku tulis dalam makna bias, aku mengungkapkan rasa di hati pada Biru, disebuah bilik kecil saat menunggu hujan. Tenang saja, bilik itu seperti sebuah posko ojek yang banyak di pinggir jalan dan tentu banyak orang lalu lalang, walau tak ku pungkiri dalam bilik itu hanya aku berdua dengan Biru. Romantis, satu kata yang bisa ku gambarkan. Tak sangka, tubuhku hangat karena ada udara di tengah dada dan dia terus berputar tanpa bisa keluar, sesak sesaat. “Kamu tau ngga? Aku udah lama nunggu kamu bilang gitu, bahkan aku berencana bilang duluan. Karena kamu kelamaan!” Jelas Biru panjang lebar yang sangat cukup menjadikan aku patung batu. Bodoh, mengapa aku tak peka dan tak pernah sadar itu? Biru menaruh hati juga padaku. Cinta monyet, jangan terlalu dipikirkan.

2008, sejujurnya aku tak ingin ingat tahun dimana kamu lebih memilih mengikuti panggilan-Nya. Seperti separuh jiwa hilang, ah maaf sepertinya berlebihan, tapi sungguh sakit rasanya. Tapi aku senang, karena Dia pasti lebih baik menjagamu dari pada aku, aku yakin itu. Aku juga percaya kamu begitu bahagia di dunia baru mu itu. Karena kamu selalu tersenyum dalam beberapa mimpiku, Alhamdulillah akhirnya aku juga merasa bahagia.

Biru, kamu pasti ingat bahwa saat Dia memintamu pulang, langit pun ikut bersedih, hujan begitu derasnya. Berhadapan dengan wajahmu yang pucat, kamu tak nampak seperti Biru warnaku yang terang. Biru, dihatiku seperti ada hujan badai yang begitu memporak-porandakan segalanya, yang aku prediksikan bahwa itu akan sulit untuk diperbaiki. Dan ternyata Biru, rizky Allah itu membawaku pada rasa yang seharusnya tak ku syukuri, kepergianmu. Sedih!.

Hujan malam ini, seperti mengaduk-aduk pikiran dan rasaku. Aku duduk terdiam di sebuah halte bus dekat kawasan Epicentrum Setiabudi, tempat dimana aku beraktifitas sehari-hari, baik itu mencari nafkah atau menuntut ilmu. Aku terpaku tanpa berbuat sesuatu, menunggu hujan reda untuk kemudian berangsur pulang menaiki bus yang tak kunjung datang, 1 jam lebih aku pikir. Dan kau tahu Biru?, rintikan hujan itu seperti ratusan huruf yang tersusun rapi membentuk kata yang selanjutnya menjadi kalimat bercerita. Aku tak mau lihat dan aku tak mau baca, tapi suara rintik hujan yang jatuh juga bagai paduan suara yang berteriak membaca tulisan itu, keras sekali. Aku terganggu, karena itu cerita tentangmu Biru, tentang kita kala hujan dan aku duduk termangu sendiri.

Seandainya hujan juga bisa menyampaikan pesan, aku ingin nenitipkan pesan untuk kemudian disampaikan kepadamu. Biru, dikala hujan tadi sejujurnya aku bersama warna baru ku. Maksudku, aku sedang berjanji menunggunya untuk pergi bersama menikmati malam jelang akhir pekanku, yah… berdua saja. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk rencana malam ini. Apa kamu cemburu? Maaf jika begitu, tapi aku pikir kamu juga ikut andil atas bertemunya aku dengan warna baru ku itu. Aku menemukan diriku yang lain, aku bersemangat kembali seperti aku bersemangat saat bersamamu dulu. Tapi tak pernah ku bandingkan kalian, karena rasa bahagia tak pernah bisa ku bandingkan.

Salamku Biru.

Surat Untuk Biru

inspirasi, kemana saja kau? kau buat aku masih betah menunggu, diam tanpa berbuat sesuatu. tapi tidak satu, aku rindu biru.

teman-teman ku bertanya “apa sih biru itu?”, ku jawab dengan bangga “biru itu masa lalu, kala kita berseragam biru”.

kata biru “kabar ku baik, aku juga merindukanmu, merindukan kita kala berseragam biru”. seperti biasa, aku balik bertanya, “berarti kau ingat semua, biru?”. kau biru, mengangguk sebagai pertanda “Ya”, sejenak kemudian ada udara hangat berputar kencang, hampa di rongga dada. sesak, seperti sulit bernafas, tapi aku senang biru.

tapi biru, aku berfikir satu hal di antara kita, ada kah peluang berjumpa kembali denganmu?. ku ingat terakhir kali, kau sudah pada jarak terjauh, tak tersentuh. kau biru, di luar benua ku.

jika benua mu Australia, itu dekat, aku tahu itu biru. aku bisa saja menyusulmu, tapi kau juga tahu bahwa itu bukan tujuanku. bisakah kau kembali?

lagi, aku menertawakan kebodohanku, mempertahankan kita, mempertahankan kau biru, duniamu yang baru tentu lebih menarik untuk kau selami. melebihi aku.

sebetulnya, tak ada yang berubah dari duniaku, duniaku begini. aku ingat kau tak suka ku kenalkan pada duniaku. maka teman-teman berkata aku tak asik karena keluar dari duniaku, semua karena kau biru. aku tersenyum saja.

aku sadar ada sekian banyak warna, tapi aku pilih kau, biru. sungguh aku merindumu, pulang dan duduk di bawah pasir pantai berdampingan, bermain air dan roda karet yang kita janjikan, seperti dulu.

Rindu Biru

kau tahu biru?
beberapa hari terakhir aku begitu benci kimia
reaksi itu membuat ku tak biasa
ada rasa rindu

kau tahu biru?
aku tak ingin berubah ketika dewasa
tapi reaksi kimia memaksa
karena ada kamu

tak ingin ku salahkan waktu
karena kimia meliputi dunia, pun rasa
tapi waktu membawamu tak terjamah
pada jarak terjauh

biar ku simpan saja rasa rindu
karena aku tahu kau merasakan hal sama
kimia yang mengatakan perubahan hatimu atas kebekuan
aku rindu, lalu ku tunggu