just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Posts tagged ‘Cinta’

Hello Octobre!

Hello Octobre!
Wah, telat karena sudah lewat dari tanggal 1 dan sekarang tanggal 10 Oktober. Lama rasanya saya tak pulang kemari, bertegur sapa pada hati dalam rumah ini, pun tetangganya. Canggung! begitulah saya deskripsikan diri untuk memulai kembali kata dalam rumah ini, tak terlalu penting, hanya sekedar menuangkan gundah gulana dalam pikiran (apa siiiih, koq serius?).

Hmm… sedikit bercerita ke belakang, saya (sok) sibuk dengan beberapa aktifitas. Menjalani fase terberat dalam hidup, yang sudah saya luapkan pada halaman Tumblr saya. Memupuk kembali rasa percaya diri, mengembalikan semua yang sempat hilang sementara waktu, pun cinta itu yang masih datang setelah 3 tahun menghilang. Kemanakah dia?
Mengutip pernyataan Guntur Kikan yang di tulis pada Kompasiana :

“Cinta sejati itu kekuatan antara dua hati. Mata dan pikiran tak pernah bisa menyadari datangnya cinta sejati, hanya hati yg bisa!”

*Glekk!* Seperti tersedak begitu dalam ketika saya menyadari ada Cinta yang lain dan tumbuh subur selama ini, setidaknya 3 tahun setelah kami bertemu.

Saya, Izar, menyatakan diri telah berlaku tidak adil bagi pasangan saya selama ini, yang sudah terjalin sejak SMP. Saya mencoba memunculkan rasa cinta yang lain dengan wanita yang baru saja saya kenal 3 tahun lalu, sebut saja Ms. Em. Mengenal Ms. Em memang kebahagiaan tersendiri bagi saya, setiap hari saya terasa lebih aktif, cerdas dan nyaman. Ms. Em membuat saya tidak membatu, kebekuan dan kekakuan saya cair begitu saja tiap kali bertemu Ms. Em.

Dia begitu aktif, setiap hari ada saja yang saya tunggu dari dia, entah pertanyaan iseng dari dia, joke segar yang selalu membuat saya tersenyum. Tapi, apakah dia tahu bahwa saya jatuh cinta padanya? rasanya tidak mungkin, mengingat Ms. Em mengenal saya begitu baik, pun seorang kekasih yang selama ini menemani hidup saya. Yah, Ms. Em tahu bahwa saya sudah memiliki pacar.

Malam minggu lalu, setelah sekian lama tidak bertemu, ada semacam reuni kecil, berdua. Obrolan berawal dari beasiswa ke luar negeri yang sedang Ms. Em cari. Ayahnya bercerita bahwa dia tidak boleh keluar dari Indonesia, pun untuk melanjutkan pendidikan, entah apa yang ada dalam pikiran Ayah beliau, tapi saya pikir itu akan menjadi sesuatu yang baik, tertama bagi Ms. Em. Saya sebagai orang luar yang peduli terhadap Ms. Em, hanya bisa memberikan saran dan ternyata saran saya sangat diterima serta dijadikan acuan olehnya, tentu saya senang.

Entah darimana munculnya, sepertinya Ms. Em sudah merencanakan semuanya, seperti topik pembuka di awal tadi, lanjut menanyakan kabar pacar saya dan selalu dipuji olehnya bahwa betapa beuntung si pacar telah memiliki saya. Mengkerut dahi ini, apakah itu artinya? Ahh, itu hanya rasa berlebih saja, tidak mungkin wanita secantik dan secerdas dia bisa dengan mudah “jatuh cinta” kepada saya. Pikiran ini rasanya sudah tidak sinkron dengan hati, kedua hal sama besar keinginannya.

“Aku sayang sama abang…” singkat, dan saya terdiam.
“Semua orang punya rasa sayang kan, Em?” buru-buru saya menyanggah, karena tak ingin berharap lebih. “Iiiih, abang… ngga ngerti banget sih, aku suka sama abang, aku cinta…” terlihat kesal ekspresi wajahnya.

Sejenak saya berfikir bahwa, apakah ini joke dia seperti biasanya, ataukah saya sedang bermimpi bahwa ternyata Ms. Em memiliki rasa yang sama, rasa yang sudah saya simpan selama 3 tahun terakhir?. Rasanya amat tidak lucu jika itu ternyata hanya joke, tapi wajahnya nampak serius, sungguh serius dan tidak biasanya begitu, saya pun mengenal baik karakternya meski tak selalu bertemu, bahkan hampir tak pernah. Saya kembali diam, lalu bertanya “Kamu tahu abang sudah punya pacar, yah… kamu juga tahu bahwa kami LDR. Kenapa begitu? kenapa kamu bisa suka?”. Kali ini justru saya yang terperangkap, saya serius menyelami maksud ungkapan hatinya.

“Abang ngga sadar ya? selama 3 tahun ini kita deket, apa ada hubungan yang kayak kita begini, yang cuma teman biasa. Jujur aku berharap lebih dari abang dan sayang nya aku juga ngerti gimana perasaan pacar abang. Aku ngga mau ngerusak hubungan kalian, tapi aku rela nunggu”. Tiba-tiba rintikan air mata nya turun. Apa saya telah menyakiti dia, bahkan saya sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi. “Eh, kenapa nangis?” Saya benar-benar bingung.

“Ini mungkin terakhir kalinya kita bisa sedekat ini, aku mau menjauh dari kehidupan abang dan pacar abang”, entah kenapa dada ini sesak mendengar perubahan rencananya, awalnya ingin menunggu, kemudian berubah ingin pergi jauh meninggalkan saya. Sungguh saya menyesali diri telah bersikap tidak adil, tapi kali ini bagi Ms. Em. Apakah tindakan saya selama ini telah memberi celah dan peluang untuk cinta yang lain masuk? Sungguh teramat bodoh jika saya tak menyadarinya. Sesak.

Kemudian saya ingat seseorang yang telah mendampingi saya sejak SMP. Saya bimbang, tapi harus memilih. Diberikan oleh Ms. Em waktu sehari untuk memikirkan, saya sudah tahu pasti jawabannya, pun sebelum diberikan kesempatan untuk berfikir. Segera saya meminta maaf kepada Ms. Em, saya tolak cintanya. Setidaknya untuk saat itu, karena saya tak tahu pasti jodoh saya. Saya setia pada pacar, setidaknya rasa di hati sudah penuh olehnya.

Sungguh saya menyesal telah memberikan sikap yang membuat Ms. Em menyalahartikan. Saya cinta dia, saya sayang dia, namun setelah bertanya kembali pada hati lebih jauh. Ternyata saya tidak siap, tidak pantas untuk wanita yang begitu baik memperhatikan diri ini, melebihi pacar sendiri.

Advertisements

Rindu Biru

kau tahu biru?
beberapa hari terakhir aku begitu benci kimia
reaksi itu membuat ku tak biasa
ada rasa rindu

kau tahu biru?
aku tak ingin berubah ketika dewasa
tapi reaksi kimia memaksa
karena ada kamu

tak ingin ku salahkan waktu
karena kimia meliputi dunia, pun rasa
tapi waktu membawamu tak terjamah
pada jarak terjauh

biar ku simpan saja rasa rindu
karena aku tahu kau merasakan hal sama
kimia yang mengatakan perubahan hatimu atas kebekuan
aku rindu, lalu ku tunggu

Untukmu, Biru

Untuk mu biru
Betapa rindu aku lama tak jumpa, pun suara mu
Senyum mu yang meneduhkan kesalahan ku
Tak sepenuhnya kau perlihatkan, tapi aku tahu

Jagalah diri mu
Setidaknya agar aku senang bila kau begitu
Membiarkan mu tanpa kabar dari ku
Hanya khawatir teramat dalam, apa aku baik untuk mu

Biru
Kita harus mengakhiri waktu
Aku melepaskan mu, membiarkan mu mencari yang terbaik
Dan aku tahu itu bukan aku

Untuk mu biru
Aku cukup bahagia mengenal dan pernah dekat dengan mu
Tak ada harapan lebih, karena aku malu berharap begitu
Semoga kau bahagia, dengan waktu mu

Kesetiaan Gerimis

Aku menunggunya di kala datang gerimis
Entah aku bagai anjing yang setia
Membodohi diri dengan sesuatu yang tak pasti datang
Sejujurnya aku pun tak tahu apa seharusnya

Di balik jendela di tengah gerimis
Senyum air terbiaskan sang surya
Aku yang tak terlalu kuat hanya menatapi nasib malang
Sejujurnya aku ingin membunuh ketidakmampuan

Kesetiaan ini untuk apa bila harus ada tangis
Menunggu sekali lagi bagai anjing yang setia
Sudah lama aku begini, semua terlarang
Sejujurnya aku takut hari esok yang pasti menyapa

Aku duduk di kala sinar sang surya mulai menipis
Kemudian sujudku pada-Nya
Aku malu dan sungguh merasa berhutang
Pada tujuan Dia, yang memberiku nafas dan kemampuan