just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Posts tagged ‘Curhat’

I’m Sorry

Apologize

Pic Source : Photobucket.

Hey! I’m shouting to my self.
But, suddenly silent comes along.
I said I’m sorry silently to the mirror.
Yeah, it’s me for what I’ve done.

This confusion sometimes makes you feel alone.
I dunno, I smile, I laugh to the people who I always to be with.
This is just another reflection, drama instead.
I said more, I’m sorry for what I’ve done to you, my self.

Last morning, The mirror said I look like a shit.
I was hurting you, I was lying on you, my self.
All I can say is, I’m sorry.
You know there’s no regret in my head, logically just say sorry.

Biru, Warna Hujan.

Hujan, entah bagaimana harus menyikapi fenomena alam ini. Aku sadar, aku tahu dan selayaknya bersyukur atas hujan, karena ialah rizky Allah yang paling ditunggu ketika kemarau panjang melanda bumi. Aku ingat, lalu tersenyum kecil ketika mendengar percakapan dua orang dosenku ketika jeda perkuliahan, Pak Bima bertanya yang mungkin menurutku adalah sebuah basa-basi pemecah kekakuan antar kedua dosen itu “Pak Felix, sudah dapat hujan di sekitar rumah?”. Mendengar pertanyaan itu membuatku tersenyum, sederhana tapi begitu dalam di pikiran. Rupanya hujan musim ini yang menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) datang terlambat bagi sebagian daerah di Indonesia, sangat ditunggu. Termasuk Pak Bima dan Pak Felix yang kemudian senyum sumringah ketika bercakap-cakap kali itu hujan turun dengan lebatnya. Yah, mereka sepertinya bersyukur atas rizky hujan tersebut.

“Ya, udah turun 1 kali di rumah, tapi tidak tau kalau sekarang bagaimana” Pak Felix kemudian menjawab seadanya karena dia memang tak tahu pasti kondisi rumahnya di Bekasi. Kemudian aku menjauh dari percakapan yang tak terlalu ku dengar tersebut, karena dari awal aku memang tak sengaja mendengarnya. Seperti lancang, namun jujur aku memang tidak sengaja, karena posisi ku tepat berada di samping keduanya sehabis sholat maghrib dan kemudian memakai sepatu kats hitam yang baru ku beli awal bulan lalu. Tidak terlalu penting.

Seperti biasanya, aku sering kali tidak fokus bagaimana menggambarkan pikiranku melalui tulisan, tapi aku terus belajar. Dan mari kita kembali ke hujan, rizky Allah yang ku katakan selalu aku tunggu, karena di sana, saat hujan turun, aku selalu teringat akan satu hal, Biru. Aku ingat kala itu gerimis, kemudian hujan, saat itulah aku mengenal Biru untuk pertama kalinya. Sejujurnya, bisa dikatakan ini seperti keajaiban hujan karena pertama kali aku melihat Biru dan belum mengenalnya, saat itu hujan. Di tahun 2003 itu, ku ingat dia berpayung bersama seorang pria dewasa yang kemudian ku tahu itu ayahnya.

Pernah dulu aku tulis dalam makna bias, aku mengungkapkan rasa di hati pada Biru, disebuah bilik kecil saat menunggu hujan. Tenang saja, bilik itu seperti sebuah posko ojek yang banyak di pinggir jalan dan tentu banyak orang lalu lalang, walau tak ku pungkiri dalam bilik itu hanya aku berdua dengan Biru. Romantis, satu kata yang bisa ku gambarkan. Tak sangka, tubuhku hangat karena ada udara di tengah dada dan dia terus berputar tanpa bisa keluar, sesak sesaat. “Kamu tau ngga? Aku udah lama nunggu kamu bilang gitu, bahkan aku berencana bilang duluan. Karena kamu kelamaan!” Jelas Biru panjang lebar yang sangat cukup menjadikan aku patung batu. Bodoh, mengapa aku tak peka dan tak pernah sadar itu? Biru menaruh hati juga padaku. Cinta monyet, jangan terlalu dipikirkan.

2008, sejujurnya aku tak ingin ingat tahun dimana kamu lebih memilih mengikuti panggilan-Nya. Seperti separuh jiwa hilang, ah maaf sepertinya berlebihan, tapi sungguh sakit rasanya. Tapi aku senang, karena Dia pasti lebih baik menjagamu dari pada aku, aku yakin itu. Aku juga percaya kamu begitu bahagia di dunia baru mu itu. Karena kamu selalu tersenyum dalam beberapa mimpiku, Alhamdulillah akhirnya aku juga merasa bahagia.

Biru, kamu pasti ingat bahwa saat Dia memintamu pulang, langit pun ikut bersedih, hujan begitu derasnya. Berhadapan dengan wajahmu yang pucat, kamu tak nampak seperti Biru warnaku yang terang. Biru, dihatiku seperti ada hujan badai yang begitu memporak-porandakan segalanya, yang aku prediksikan bahwa itu akan sulit untuk diperbaiki. Dan ternyata Biru, rizky Allah itu membawaku pada rasa yang seharusnya tak ku syukuri, kepergianmu. Sedih!.

Hujan malam ini, seperti mengaduk-aduk pikiran dan rasaku. Aku duduk terdiam di sebuah halte bus dekat kawasan Epicentrum Setiabudi, tempat dimana aku beraktifitas sehari-hari, baik itu mencari nafkah atau menuntut ilmu. Aku terpaku tanpa berbuat sesuatu, menunggu hujan reda untuk kemudian berangsur pulang menaiki bus yang tak kunjung datang, 1 jam lebih aku pikir. Dan kau tahu Biru?, rintikan hujan itu seperti ratusan huruf yang tersusun rapi membentuk kata yang selanjutnya menjadi kalimat bercerita. Aku tak mau lihat dan aku tak mau baca, tapi suara rintik hujan yang jatuh juga bagai paduan suara yang berteriak membaca tulisan itu, keras sekali. Aku terganggu, karena itu cerita tentangmu Biru, tentang kita kala hujan dan aku duduk termangu sendiri.

Seandainya hujan juga bisa menyampaikan pesan, aku ingin nenitipkan pesan untuk kemudian disampaikan kepadamu. Biru, dikala hujan tadi sejujurnya aku bersama warna baru ku. Maksudku, aku sedang berjanji menunggunya untuk pergi bersama menikmati malam jelang akhir pekanku, yah… berdua saja. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk rencana malam ini. Apa kamu cemburu? Maaf jika begitu, tapi aku pikir kamu juga ikut andil atas bertemunya aku dengan warna baru ku itu. Aku menemukan diriku yang lain, aku bersemangat kembali seperti aku bersemangat saat bersamamu dulu. Tapi tak pernah ku bandingkan kalian, karena rasa bahagia tak pernah bisa ku bandingkan.

Salamku Biru.

Hello Octobre!

Hello Octobre!
Wah, telat karena sudah lewat dari tanggal 1 dan sekarang tanggal 10 Oktober. Lama rasanya saya tak pulang kemari, bertegur sapa pada hati dalam rumah ini, pun tetangganya. Canggung! begitulah saya deskripsikan diri untuk memulai kembali kata dalam rumah ini, tak terlalu penting, hanya sekedar menuangkan gundah gulana dalam pikiran (apa siiiih, koq serius?).

Hmm… sedikit bercerita ke belakang, saya (sok) sibuk dengan beberapa aktifitas. Menjalani fase terberat dalam hidup, yang sudah saya luapkan pada halaman Tumblr saya. Memupuk kembali rasa percaya diri, mengembalikan semua yang sempat hilang sementara waktu, pun cinta itu yang masih datang setelah 3 tahun menghilang. Kemanakah dia?
Mengutip pernyataan Guntur Kikan yang di tulis pada Kompasiana :

“Cinta sejati itu kekuatan antara dua hati. Mata dan pikiran tak pernah bisa menyadari datangnya cinta sejati, hanya hati yg bisa!”

*Glekk!* Seperti tersedak begitu dalam ketika saya menyadari ada Cinta yang lain dan tumbuh subur selama ini, setidaknya 3 tahun setelah kami bertemu.

Saya, Izar, menyatakan diri telah berlaku tidak adil bagi pasangan saya selama ini, yang sudah terjalin sejak SMP. Saya mencoba memunculkan rasa cinta yang lain dengan wanita yang baru saja saya kenal 3 tahun lalu, sebut saja Ms. Em. Mengenal Ms. Em memang kebahagiaan tersendiri bagi saya, setiap hari saya terasa lebih aktif, cerdas dan nyaman. Ms. Em membuat saya tidak membatu, kebekuan dan kekakuan saya cair begitu saja tiap kali bertemu Ms. Em.

Dia begitu aktif, setiap hari ada saja yang saya tunggu dari dia, entah pertanyaan iseng dari dia, joke segar yang selalu membuat saya tersenyum. Tapi, apakah dia tahu bahwa saya jatuh cinta padanya? rasanya tidak mungkin, mengingat Ms. Em mengenal saya begitu baik, pun seorang kekasih yang selama ini menemani hidup saya. Yah, Ms. Em tahu bahwa saya sudah memiliki pacar.

Malam minggu lalu, setelah sekian lama tidak bertemu, ada semacam reuni kecil, berdua. Obrolan berawal dari beasiswa ke luar negeri yang sedang Ms. Em cari. Ayahnya bercerita bahwa dia tidak boleh keluar dari Indonesia, pun untuk melanjutkan pendidikan, entah apa yang ada dalam pikiran Ayah beliau, tapi saya pikir itu akan menjadi sesuatu yang baik, tertama bagi Ms. Em. Saya sebagai orang luar yang peduli terhadap Ms. Em, hanya bisa memberikan saran dan ternyata saran saya sangat diterima serta dijadikan acuan olehnya, tentu saya senang.

Entah darimana munculnya, sepertinya Ms. Em sudah merencanakan semuanya, seperti topik pembuka di awal tadi, lanjut menanyakan kabar pacar saya dan selalu dipuji olehnya bahwa betapa beuntung si pacar telah memiliki saya. Mengkerut dahi ini, apakah itu artinya? Ahh, itu hanya rasa berlebih saja, tidak mungkin wanita secantik dan secerdas dia bisa dengan mudah “jatuh cinta” kepada saya. Pikiran ini rasanya sudah tidak sinkron dengan hati, kedua hal sama besar keinginannya.

“Aku sayang sama abang…” singkat, dan saya terdiam.
“Semua orang punya rasa sayang kan, Em?” buru-buru saya menyanggah, karena tak ingin berharap lebih. “Iiiih, abang… ngga ngerti banget sih, aku suka sama abang, aku cinta…” terlihat kesal ekspresi wajahnya.

Sejenak saya berfikir bahwa, apakah ini joke dia seperti biasanya, ataukah saya sedang bermimpi bahwa ternyata Ms. Em memiliki rasa yang sama, rasa yang sudah saya simpan selama 3 tahun terakhir?. Rasanya amat tidak lucu jika itu ternyata hanya joke, tapi wajahnya nampak serius, sungguh serius dan tidak biasanya begitu, saya pun mengenal baik karakternya meski tak selalu bertemu, bahkan hampir tak pernah. Saya kembali diam, lalu bertanya “Kamu tahu abang sudah punya pacar, yah… kamu juga tahu bahwa kami LDR. Kenapa begitu? kenapa kamu bisa suka?”. Kali ini justru saya yang terperangkap, saya serius menyelami maksud ungkapan hatinya.

“Abang ngga sadar ya? selama 3 tahun ini kita deket, apa ada hubungan yang kayak kita begini, yang cuma teman biasa. Jujur aku berharap lebih dari abang dan sayang nya aku juga ngerti gimana perasaan pacar abang. Aku ngga mau ngerusak hubungan kalian, tapi aku rela nunggu”. Tiba-tiba rintikan air mata nya turun. Apa saya telah menyakiti dia, bahkan saya sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi. “Eh, kenapa nangis?” Saya benar-benar bingung.

“Ini mungkin terakhir kalinya kita bisa sedekat ini, aku mau menjauh dari kehidupan abang dan pacar abang”, entah kenapa dada ini sesak mendengar perubahan rencananya, awalnya ingin menunggu, kemudian berubah ingin pergi jauh meninggalkan saya. Sungguh saya menyesali diri telah bersikap tidak adil, tapi kali ini bagi Ms. Em. Apakah tindakan saya selama ini telah memberi celah dan peluang untuk cinta yang lain masuk? Sungguh teramat bodoh jika saya tak menyadarinya. Sesak.

Kemudian saya ingat seseorang yang telah mendampingi saya sejak SMP. Saya bimbang, tapi harus memilih. Diberikan oleh Ms. Em waktu sehari untuk memikirkan, saya sudah tahu pasti jawabannya, pun sebelum diberikan kesempatan untuk berfikir. Segera saya meminta maaf kepada Ms. Em, saya tolak cintanya. Setidaknya untuk saat itu, karena saya tak tahu pasti jodoh saya. Saya setia pada pacar, setidaknya rasa di hati sudah penuh olehnya.

Sungguh saya menyesal telah memberikan sikap yang membuat Ms. Em menyalahartikan. Saya cinta dia, saya sayang dia, namun setelah bertanya kembali pada hati lebih jauh. Ternyata saya tidak siap, tidak pantas untuk wanita yang begitu baik memperhatikan diri ini, melebihi pacar sendiri.

Sedikit Kenangan

Minggu lalu, saya begitu iseng dan ngga ada kerjaan. Daripada bengong, nanti ayam tetangga ada yang mati (eh – abaikan), hehehe. Saya coba beres-beres buku di gudang yang lumayan banyak dan udah ngga karuan ke urus, berdebu pula. Sebenernya saya lumayan males buat beresin tumpukan buku itu, tapi entah kenapa hari Minggu itu berasa ingin saja.

Baik, sekilas info saja. Tumpukan buku tersebut sebenarnya sudah hampir dibuang atau bahkan mau dijual ke tukang barang bekas oleh Ibu saya, tapi saya larang terus. Alasan Ibu karena saya terlihat kurang perhatian dan daripada bertumpuk terus ngga berguna, mending dijual. Tapi yah itu, entahlah agak sulit menjelaskan keinginan hati menyimpan buku-buku tersebut. Sebenarnya tumpukan buku itu cuma buku-buku tulis saya selama sekolah, mungkin dari SD juga ada kali. Buku-buku paket pelajaran dan bacaan lain terkadang sudah langsung ada yang meminta, nah kalo itu saya setuju. Karena ilmu yang ada di buku paket bisa bermanfaat ke pelajar generasi bawah saya. Tapi masih ada juga sih sebagian yang tersisa.

Dulu saya ingat, begitu rajin saya beli buku karena memang senang sekali baca buku. Imaginasi begitu luas dan tidak ada yang membatasi diri saya ketika sedang serius membaca, berbeda dengan nonton film yang cenderung kita diarahkan oleh sang sutradara untuk mengikuti alur yang diarahkannya. Saya suka juga sih nonton film, tapi tetap selektif!. Kebiasaan baca buku sebenernya ketularan dari ortu, atau mungkin semacam “racun” yang didoktrinkan sejak saya kecil. Dulu sebelum sekolah, saya ingat Ibu pernah membelikan saya majalah anak-anak, di sana ada cerpen tentang Air yang sampai sekarang tetap terngiang di lintasan pikiran dan memori saya. Judul cerpennya “Kisah Si Titik Air”.

Belum bisa baca, tapi saya paksa Ibu buat bacakan cerpen itu berulang-ulang setiap malam. Sampai saya hafal waktu itu, sekarang masih ingat juga sih, tapi cuma sebatas gambaran umum saja. Jadi cerpen itu berkisah tentang perjalanan setitik mata air dari asalnya di dalam tanah, terangkat lewat kran, terminum, kembali ke tanah, terpakai mandi dan sebagainya sampai akhirnya Si Titik air itu berlabuh ke laut tidak kembali. Betapa bermanfaat air, begitu kira-kira pesan cerpennya. Ya Allah, seandainya ada mesin waktu, saya rindu saat itu. Benar-benar rindu, terkadang sering merenung dan sedih tanpa sebab ketika waktu saya sudah terlewati begitu banyak.

Well, kita kembali ke beres-beres gudang. Hampir mirip sih, mengenang masa lalu kembali. Kadang inilah bagian yang paling saya benci menjalani hidup, mengenang masa lalu. Demi Allah, saya tidak ingin terlalu bersedih memikirkan masa lalu, hidup adalah untuk masa depan, walau tetap harus belajar dari masa lalu. Basi!!! yah, katakanlah begitu, tapi saya begitu percaya dan selalu menjalani konsep dan prinsip tersebut.

Sebuah buku tulis bersampul cukup bagus, bahkan cenderung masih bagus saya temukan diantara tumpukan yang lain. Begitu menarik, Bimbingan Konseling. Hey, don’t judge the book by it’s cover, hehehe. Saya buka perlahan dan tertulis tahun 2004. Ohh… memori menerawang kembali pada saat saya kelas 8 SMP (Kelas 2), tidak terlalu ingat awalnya. Saya buka kembali beberapa halaman berikutnya dan saya mulai tersenyum, entahlah dalam hati terasa tangisan yang membahagiakan. Banyak catatan BK yang sifatnya pertanyaan-pertanyaan pribadi yang begitu menggelikan ketika saya baca ulang.

Cerita tentang pengalaman berpacaran ketika SMP pun ada, hehehe -jadi malu-. Saya ingat, saya ingat semuanya. Saya ingat ketika itu Guru BK saya, Pak Saman meminta saya dan teman-teman untuk membuat semacam sebuah catatan seperti diary dan keinginan, agak aneh sih anak jaman sekarang buat diary, apalagi laki-laki, mungkin jarang atau mungkin ada? saya kurang tahu pasti. Tapi yang pasti, hal itu cukup bermanfaat ketika kita sedang bermasalah dengan apa pun, percayalah mengurai emosi lewat tulisan begitu menyenangkan. Apalagi ketika kita sering merasa dikecewakan orang lain, maksudnya ketika kita curhat, tapi masalah malah tambah banyak dengan bocornya rahasia tersebut. Saya termasuk diantaranya, begitu alasan saya pada Pak Saman waktu itu dan saya masih ingat bagaimana mengatakannya.

Ada satu hal menarik lagi, hmm… menarik ngga yak? hehehe… Bagi sebagian pelajar, Ruang BK/BP adalah tempat yang cukup menankutkan untuk dikunjungi, dulu saya juga berfikir begitu. Abis kalo keliatan dari luar, cuma anak bandel yang terus menerus dipanggil guru BK dan bolak-balik kesana. Kesannya kayak penjara gitu, yang salah kena hukuman. Tapi setelah saya dipanggil guru BK karena suatu masalah, saya seterusnya malah sering berkunjung meski tanpa masalah. Ketika itu, teman saya Desi Twiwijayanti membawa ular karet, yang konturnya benar-benar mirip dengan ular sungguhan, serius tidak bohong, yang baru pertama kali liat pasti akan langsung kaget dan nyangka itu ular beneran. Nah, muncullah ide iseng buat ngerjain orang yang masuk ke dalam kelas dari luar, kebetulan saya duduk di kursi nomor 3 dekat pintu, jadi agak mudah buat ngelempar.

Dan tibalah Ibu Ai masuk kelas, guru Bahasa Indonesia yang memberikan saya nilai 5 saja di raport (selanjutnya jadi 9 setelah minta maaf). Dengan santai dan isengnya anak SMP, saya lemparlah ular karet milik Desi itu ke depan Ibu Ai, dasar anak bandel 😀 . Spontan Ibu Ai langsung kaget dan mempermasalahkan hal tersebut, terseretlah pertama kali saya ke Ruang BK (DUILLEEEE bahasanya, terseret. hahaha). Dan Desi pun ikut ikut dalam masalah tersebut karena dia pemiliknya (kasian bener, ngga tau apa-apa padahal). Well, justru dari hal itu saya sangat berterima kasih dengan Desi dan Ibu Ai, wah kangen sama kalian deh pokoknya. Sumfeh!!

Banyak hal menarik yang membuat saya duduk di atas debu tanpa sadar dan senyum-senyum sendiri di gudang, karen buku tulis itu. Selanjutnya saya tidak akan meminjamkan buku itu pada siapa pun, karena itu bener-benar catatan dosa dan kebodohan yang -sangat- konyol, malu juga sih. Berlanjuta terus tanpa sadar sudah hampir 1 jam saya duduk membaca buku itu sambil membayangkan kembali situasi saya saat kelas 8. Dulu waktu SMP, saya pernah bilang pada seluruh teman-teman, pengalaman paling menarik dan indah ada di kelas 8 itu, entahlah. Nanti akan saya ceritakan, yang menurut sebagian orang justru buruk sekali saya di kelas tersebut. Maklum lulusan kelas 7.1 alias kelas super unggulan :p.

Sampai pada beberapa halaman terakhir, ada kotak berisi nama seluruh teman sekelas saya di 8.4, dan saya langsung ingat tanpa harus membaca, hahaha. Itu lucu sekali, karena di sana adalah momen tersedih saat itu karena dekat dengan kenaikan ke kelas 9. Di sana ada kotak berisi kesan dan pesan teman-teman terhadap saya karena sebentar lagi akan pisah kelas. Pertanyaan stabdar, apa pendapat kamu tentang saya dan apa yang sebaiknya saya lakukan di kelas 3 nanti. Percayakah anda bahwa 100% teman sekelas saya mencantumkan kana “Pintar” di kolom pendapat?

Menurut mereka begitu, saya pelajar pintar, eh ini pintar pelajaran yakkk bukan pintar yang lain, tapi serius nih bukan sombong, saya memang tidak pernah keluar dari ranking 3 besar selama SMP. Bahkan cenderung jadi favorit guru, sering dikasih buku gratis dari guru karena mereka tahu saya suka baca, makasih ya bapak ibu guru semua, I lop yu pul dah.

Setelah diamati, waktu itu saya protes ke teman-teman yang lain, koq mereka kompakan kasih pendapat begitu. PLease lah ditambah komen yang lain, dan akhirnya pada sewot semua. Saya ingaaaaaat semua itu dan sungguh kangen. Sebetulnya sih sudah ada komen lain selain pintar, misalnya dibilang playboy lah (busehhh… bocah SMP dibilang playboy, ngaco emang itu temen SMP semua). Duh, kemanakah Arief teman semeja saya? Rizal, Novel, Desi, Musa, Ika, Dewi, Febrianti, Febriana, Agus, dan semuanya… Ya Allah, do’a saya semoga semua teman-teman dalam keadaan baik dan sukses, amien.

Yang paling membuat saya sedih adalah komentar dari Almarhumah Nok Riyah, salah satu teman terdekat saya ketika itu. Kebetulan waktu kelas 7 kami sekelas, jadi begitu masuk kelas 8 kami langsung akrab. Beliau meninggal ketika kami kelas 9 dan itu juga momen paling menyedihkan bagi saya. Sekarang cuma do’a saja yang bisa saya kirimkan ke beliau, walau mungkin Allah sudah menyampaikan padanya bahwa saya begitu menyanyangi dia sebagai sahabat dan selalu mendo’akan yang terbaik baginya. Iyah (panggilan beliau) bilang “Zar, jangan lupa makan yak, kamu kurus banget! Nanti kelas 3 harus lebih gemuk dari ini, supaya lebih pintar”. Huhu, sedih bacanya (masih ada terusannya padahal).

Huh, ngga kerasa udah mengenang memori masa lalu lewat sebuah buku, cuma buku tulis doang padahal, tapi itu harta saya yang tidak ternilai, setiap momen yang saya lalui adalah harta berharga. Mungkin teman-teman juga? Yah… setidaknya manfaatkanlah waktu kalian dengan baik, jika tak ingin ada penyesalan nantinya. hmm… banyak sekali perubahan yang terjadi pada saya setelah masa-masa SMP, bukan hanya fisik tapi karakter dan sikap juga sih katanya, semoga itu lebih baik. Padahal saya merasa begini-begini saja dari dulu, tidak ada yang spesial, bahkan jadi bodoh karena terlalu sibuk memikirkan banyak hal, ah… dewasa membuat saya banyak pikiran.

Well, salam semangat, semoga semua selalu dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Fight!

Untukmu, Biru

Untuk mu biru
Betapa rindu aku lama tak jumpa, pun suara mu
Senyum mu yang meneduhkan kesalahan ku
Tak sepenuhnya kau perlihatkan, tapi aku tahu

Jagalah diri mu
Setidaknya agar aku senang bila kau begitu
Membiarkan mu tanpa kabar dari ku
Hanya khawatir teramat dalam, apa aku baik untuk mu

Biru
Kita harus mengakhiri waktu
Aku melepaskan mu, membiarkan mu mencari yang terbaik
Dan aku tahu itu bukan aku

Untuk mu biru
Aku cukup bahagia mengenal dan pernah dekat dengan mu
Tak ada harapan lebih, karena aku malu berharap begitu
Semoga kau bahagia, dengan waktu mu

Stigma

Stigma menurut KBBI berarti ciri khusus (cenderung negatif) yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya, atau dapat diartikan juga sebagai tanda. Well, kejujuran pertama, bahwa saya salah mengartikan kata “stigma” tersebut. Awalnya saya kira, stigma adalah sudut pandang kita terhadap pribadi seseorang atau sebaliknya. Tapi setelah dipikir-pikir, KBBI memang lebih benar, hehehe 😀

Banyak stigma yang awalnya tak ada, menjadi ada karena stigma yang diberikan. Jadi yang salah siapa kalo gitu? -ini curhat colongan ceritanya-. Sebenarnya tak ada niat bagi saya memberi peluang orang lain untuk menstigma saya, tapi balik lagi, saya berfikir semua akan baik-baik saja pada awalnya. Stigma tersebut tak akan muncul menjadi kenyataan, begitu kira-kira perintah saya pada diri sendiri.

Lama-lama kesel juga… yah karena saya manusia biasa. Awalnya cuma niat “mewujudkan” stigma orang lain agar mereka puas dan berhenti mengatakan sesuatu tentang stigma tersebut. Tak ada niat membuatnya menjadi benar-benar seperti candu bagi saya. Saya terjebak, bisa keluar dengan mudah, tapi terlanjur basah. Jalanin ini berasa berat, belum tahu sih hukum nya apa, tapi berasa benar aja, walau masih dag-dig-dug juga antara setan dalam hati sama malaikat di otak.

Saya sudah pada track ini, akan saya lanjutkan dan selesaikan walau belum tahu ke depannya seperti apa. Toh jika salah, hanya saya yang rugi, ini tak terkait dengan siapa pun yang saya kenal, justru membahagiakan orang yang telah menstigma. Oalaaaah…

Hoaaah… entah, berasa galau dan bingung. Sebingung teman-teman yang baca tulisan ini kan? Yah… sama saya juga bingung. Yasudahlah, tidak usah dianggap, buang waktu juga memikirkan tulisan tidak penting ini. Cuma curhat, tapi tidak mengerti apa yang harus saya katakan dan entah kemana menyampaikan ini. Welcome to the world of trash!