just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Posts tagged ‘Happy Moments’

Papandayan Random Trip

Halo kawan!
Sudah cukup lama sepertinya sejak terakhir kali saya menulis di-blog ini. Sok, ngartis nya sih saat ini sedang sibuk dengan beberapa aktifitas di dunia pendidikan dan yang pasti kerja juga, sebagai pendukung hobby saya bepergian ke berbagai tempat, yap semua memang butuh uang. Baiklah, langsung saja saya akan bercerita mengenai perjalanan saya ke Gunung Papandayan tanggal 6-8 September 2013 lalu, bersama beberapa teman.

PESIMIS

Berawal dari sebuah celetukan iseng salah satu member cs, Regina di group whatsapp CS yang kami buat. Regina mengajak saya untuk mendaki Gunung Papandayan, yang entah bagaimana ceritanya, saya menjadi korban. Dalam hal ini, kemudian malah saya yang sibuk meng-organisir dari awal hingga akhir acara.

Mungkin alasannya karena saya pernah 2x ke Papandayan sebelumnya di tahun 2009 lalu. Aaak, tapi terima kasih Regina, bahwasanya saya belajar untuk meng-organisir diri sendiri dan kelompok, hidup capres 2014! #LOH #GagalFokus :D.

Saya putuskan untuk jalan pada tanggal 30 Agustus, yang pada akhirnya pending ke 6-8 September kemarin. Alasan pending karena kesiapan materi utama, yaitu tenda tidak tersedia pada tanggal 30 Agustus, dari situ saya mulai pesimis bahwa event ini akan berjalan dengan baik, atau buruknya bahkan batal sama sekali. Tapi berkat “paksaan” Regina, saya justru semakin tertantang bahwa event ini harus tetap berjalan.

Bertubi-tubi pertolongan datang, kemudahan informasi dan sikap kooperatif peserta yang berencana ikut juga sangat membantu, ini lah bagaimana team harus berjalan. Kompak dan saling membantu, melengkapi jika ada yang kurang. Mulai dari Sufi yang akhirnya bersedia ikut dan meminjamkan tenda, Frido yang juga banyak memberi informasi kemana harus mencari alternatif tenda, Riska dan Lia yang sangat antusias memberi semangat. Semua saling mengisi.

PESERTA

Pada awalnya, ada 15 orang yang akan ikut mendaki ke Papandayan dan kesemuanya adalah member CS yang sudah saling kenal satu sama lainnya, namun karena saya memutuskan untuk pending waktu pelaksanaan, beberapa banyak yang mundur dan bahkan men-judge bahwa acara ini pasti akan gagal terlaksana. Bingung pun datang, peserta hanya tinggal 6 orang yang benar-benar niat ikut, saya dan Regina, Riska, Lia, Ruben serta Emma. Saya tetap optimis, open trip kembali ke berbagai teman dekat dan kami tetap mengajak beberapa teman CS dalam group yang sudah kami buat sebelumnya. Regina sangat semangat dalam hal ini, kurang lebih 4 hari sebelum berangkat, akhirnya Sufi positif ikut. Ditambah saya mengajak Frido, dari Depok dan Ferry, teman dari Regina. Maka, peserta positif menjadi 9 orang.

Dan di 3 hari terakhir, saya berhasil mendapatkan info bagaimana mendapatkan tenda atas bantuan Frido. Penyewaan tenda yang harga nya relatif murah dan mudah dijangkau dari posisi mayoritas kami masing-masing di Jakarta Selatan.

Bertemu sapa dalam group whatsapp couchsurfing, membuat kami saling terhubung satu sama lain. Pada dasarnya, hanya saya, Regina dan Sufi yang berawal dari group whatsapp CS yang sama, kemudian merembet ke yang lainnya. Maka, kami putuskan ini hanya sekedar perjalanan senang-senang saja tanpa konsep yang mengikat dan mewajibkan peserta untuk dipatuhi. Tapi, saya tetap membuat rencana perjalanan dan hal-hal detail lain yang juga sangat penting untuk diperhatikan. Karena berjalan tanpa tujuan, bukanlah misi yang ditawarkan dalam jejaring sosial bernama couchsurfing ini.

JUM’AT, 6 SEPTEMBER 2013

Hah! akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Jum’at, 6 September 2013 kami siap berangkat menuju pendakian ke Gunung Papandayan.

Sesuai ittinerary yang saya buat, kami berangkat dari terminal Kampung Rambutan pukul 10 malam, atau selepas kerja bagi yang masih bekerja. Menyiapkan ongkos 42 ribu (Jakarta – Garut) bagi saya cukup mahal karena jarak tarif sebelum kenaikan bbm sangat jauh, hanya kisaran 30-35 ribu saja.

Masalah pertama pun muncul, ketika satu persatu diantara kami datang terlambat ke terminal Kampung Rambutan, Regina dan Riska adalah yang terakhir, sekitar pukul 10.30 malam mereka baru tiba. Oh, saya sendiri datang paling pertama, jam 8 malam saya sudah tiba di Kampung Rambutan, disusul kemudian Frido, Ruben dan Emma, dan seterusnya hingga akhirnya Riska dan Regina yang terakhir, seperti yang sebelumnya saya tuliskan.

Kami baru benar-benar menuju garut, tepat jam 12 malam, entah ada kesalahan apa di armada bus yang kami tumpangi, kami diajak keliling dulu, sampai bertemu tukang manggis yang bilang dagangannya tinggal 2 ikat (sudah dibeli orang), kemudian dia tidak sadar masuk ke bus yang sama dan mengatakan hal yang sama, bahwa dagangannya tinggal 2 ikat lagi (Lah, yang tadi?). INI PERILAKU TIDAK JUJUR YANG HARUS KITA HINDARI, SEPAKAT YAA!!!

SABTU, 7 SEPTEMBER 2013

Terminal Guntur

Terminal Guntur, Garut

Setelah hampir 4 Jam perjalanan, kami tiba di terminal Guntur, Garut. Udara dingin kota Garut mulai merambat ke kulit yang terasa cukup menyayat, ditambah hembusan angin kemarau yang kencang membuat bulu kuduk cepat berdiri. Well, sebenarnya waktu tiba di Garut kami terlambat dari prediksi di ittinerary, karena dari Jakarta nya sendiri memang terlambat berangkat juga. Tapi, tidak masalah karena waktu tunggu kami untuk melanjutkan perjalanan ke pos pendakian gunung menjadi lebih sedikit.

Terhampar duduk di depan sebuah minimarket, kami menunggu sopir menawarkan jasa nya untuk mengantar kami ke Pos Pendakian. Berbagai aktifitas mulai dilakukan, yang sholat subuh, ke toilet sekedar menyegarkan diri, atau sekedar rebahan kembali di depan minimarket layaknya gelandangan di emperan toko #Peace.

Waktu menunjukkan pukul 5.30, Saya dan Sufi mulai bernegosiasi dengan Sopir angkutan di sekitar terminal Guntur untuk mengantarkan kami ke Pos Pendakian. Sejujurnya kami merasa tertipu dengan kesepakatan antara kami dan Sopir. Mereka bilang bisa mengantar kami 9 orang menuju Pos Pendakian dengan harga 150 ribu rupiah, namun ternyata kami hanya diantar sampai pintu gerbang desa Cisurupan. Dan dari desa Cisurupan sendiri kami harus menaiki mobil bak terbuka dan yang pasti akan mengeluarkan biaya kembali. Seingat saya dulu, dari terminal Guntur ada angkutan yang memang mau mengantarkan ke Pos Pendakian, atau mungkin sistem transportasinya sudah berubah supaya terasa lebih fair bagi kedua belah pihak, angkot dan mobil bak terbuka. Jadi, total kami harus mengeluarkan uang +/- 37 ribu per orang dari terminal Guntur menuju Pos Pendakian.

PESERTA KE SEPULUH

Ketika kami tiba di gerbang desa Cisurupan, kami mengalami kesulitan tawar menawar dengan sopir mobil terbuka, mengingat minimal keberangkatan agar lebih murah adalah 10 orang, artinya kami minus 1 orang untuk dapat kesepakatan harga. Saya dan Sufi masih terus bernegosiasi, dan akhirnya kami melihat 1 orang galau yang juga ingin menuju ke Pos Pendakian. Bertemu lah kami dengan Rahmat, yang menggenapi perjalanan ke Pos Pendakian menjadi 10 orang.

10 Pendaki

10 Pendaki, Papandayan

Setiba nya di Pos Pendakian, Rahmat menawarkan diri untuk menjadi anggota rombongan kami. Berhubung kami pun kurang 1 anggota agar genap dan memudahkan ketika menaiki transportasi, maka saya putuskan Rahmat gabung ke dalam team kami. Dalam pendakian, saya dan Rahmat banyak bercerita hingga akhirnya saya tahu bahwa Rahmat pun member couchsurfing dan saya tawarkan pula  Rahmat untuk ikut serta camping, sayang sekali jika Rahmat hanya mendaki dan kemudian pulang di hari yang sama. Sebetulnya, saya tahu Rahmat sudah memiliki agenda lain untuk eksplorasi kota Garut, seperti ke Candi Cangkuang misalnya, namun di lain hal saya juga memperhatikan bahwa Rahmat nampak antusias dengan tawaran saya untuk ikut Camping di Pondok Salada. Maka Rahmat pun ikut serta camping :D.

REGINA HHHHHHH

Regina

Regina dalam pendakian

Menjadi awal yang menarik ketika Regina mencetuskan ide mendaki Gunung Papandayan di awal Agustus lalu. Bagaimana tidak, mendengar cerita salah seorang teman yang pernah ke Curug Nangka bersama Regina, mbak satu itu sepertinya nampak kapok dan tidak akan menaiki gunung lagi. Tapi, saya sendiri belum pernah jalan jauh bersama Regina setelah kenal sekian lama. Maka saya terima tawarannya untuk merencanakan perjalanan ke Papandayan.

Dalam pendakian kali ini, saya sangat beruntung karena ada 2 orang yang sudah pernah mendaki Papandayan sebelumnya yaitu saya dan Sufi. Proses pendakian saya bagi menjadi 2 team, walau tak secara langsung mengatakan itu pada Sufi, sepertinya Sufi nampak faham bahwa kode saya bisa dimengerti. Sufi memimpin perjalanan paling depan, sehingga bisa disusul Riska, Emma dan Ruben. Sementara saya bergantian dengan Ferry berada di urutan terbelakang. Fungsinya? Tentu sebagai Ketua Regu, saya harus bertanggung jawab atas seluruh anggota, termasuk Reginahhh yang nampak kelelahan terus menerus. Tapi sebagai Team, kita semua harus saling support dan membantu. OKE LANJUT?!!!

SALAH ARAH???

Diam-diam, pikiran iseng saya muncul ketika proses pendakian. Berhubung sudah tertinggal jauh dengan rombongan Sufi, Riska, Emma dan Ruben. Maka saya dapat kesempatan mencoba hal yang belum pernah saya coba sebelumnya, yaitu MENDAKI LEWAT HUTAN MATI!!!. Saya bersama Frido, Ferry, Lia, Rahmat dan tentu Regina mendaki lewat Hutan Mati yang notabene nya sangat sulit didaki.

Jalur Pendakian

Pendakian melalui Hutan Mati, Papandayan

Pada pendakian saya sebelumnya, karena saat itu saya adalah peserta yang tidak memiliki hak dan memang minim pengalaman, maka saya ikut saja apa yang sudah ditentukan oleh Senior. Senior mengajak saya untuk mendaki melalui jalur biasa, dimana Pondok Salada adalah tujuan utama dan kemudian pada hari berikutnya baru mengunjungi Hutan Mati. Tapi saya sebaliknya, saya sengaja membuat nya terbalik menjadi ke Hutan Mati dahulu baru ke Pondok Salada. Rencana saya untuk salah arah ini, sebenarnya tidak diketahui oleh 5 orang lainnya yang mengikuti saya. Egois, tapi sepertinya teman-teman yang saya arahkan nampak puas dengan keputusan sepihak saya ini. TAPI, SIKAP SEPERTI INI SEBENARNYA TIDAK BAIK, SAYA MENGAKU SALAH.

Menurut saya pendakian menuju Pondok Salada melalui jalur Hutan Mati sebenarnya lebih dekat karena tidak harus berputar-putar, namun seperti yang saya katakan tadi, agak berbahaya karena jalur ini memang curam dan tidak banyak yang melalui nya. Biasanya Pendaki justru melalui jalur ini untuk turun, bukan mendaki. Well, akhirnya rasa penasaran saya terobati, mengingat memang ada beberapa blog yang pernah saya baca mengenai pendakian melalui jalur ini dan akhirnya saya sendiri bisa merasakannya, hehehe :p.

PEMBAGIAN TUGAS

Seperti tugas ketua pada umumnya, setiba nya di Pondok Salada saya membagi beberapa tugas seperti pengumpulan logistik, mengumpulkan sampah, mencari kayu, memasak hingga kelompok untuk tidur di tenda. Hari Sabtu, tidak banyak hal yang kami lakukan selain mendirikan tenda. Kesalahan fatal ketika perlengkapan untuk mengisi acara, bermain game tidak saya bawa alias ketinggalan. Bingung melanda, saya berkeliling bertanya Lia, Regina dan Frido untuk memberi ide, namun nampaknya semua buntu karena efek ketinggian #OON #Alibi HAHAHA.

Istirahat

Istirahat selepas tiba di Pondok Salada dan mendirikan tenda

Jam 1 siang, selepas makan siang dan beberapa hal lain, saya membebaskan team pertama yang dipimpin Sufi, yaitu Riska, Emma dan Ruben ditambah Ferry, menjadi imbang 5 orang, untuk pergi mencari pemandangan atau hal lainnya. Menurut wawancara saya dengan Sufi yang bisa dilihat di video, Sufi mengajak kelompoknya untuk pergi menuju Hutan Mati, Tegal Alun dan kemudian ke Puncak Bayangan. Sebenarnya saya membebaskan semua anggota untuk melakukan apa pun yang mereka mau, karena saya memang tidak ada ide saat itu. Destinasi hutan mati, sepertinya tidak terlalu menarik bagi Frido, Rahmat, Regina dan Lia. Maka kami putuskan untuk stay di tenda dan bereksperimen dengan logistik yang kami bawa.

FATAL, KEBUTUHAN PENTING TERLUPAKAN!

Tidak hanya perlengkapan untuk mengisi acara yang tertinggal, tapi kebutuhan memasak pun sepertinya begitu. Minya goreng untuk sekedar menggoreng telur, tidak ada, terlupakan. INI PENTING YAK KAWAN, HARAP DICATAT JIKA MENDAKI KEMBALI. Pastikan kompor untuk memasak menyala dengan baik, gas penuh, nasting, logistik yang kita bawa berguna (semisal ketika kita bawa sesuatu untuk digoreng, YA HARUS BAWA MINYAK GORENG!!! Minimal Margarin. Tips itu supaya tidak diomongin negatif sama penghuni tenda sebelah (wkwkwkwk – mereka pikir diantara kami tidak ada yang bisa berbahasa Sunda, saya mengerti apa yang mereka bicarakan). Intinya, kelompok kami dibilang tidak baik karena sempat meminta minyak goreng 3 sendok makan. Tapi, yasudahlah… saya sadari kelompok kami memang salah dan sesekali dikritik harus terima.

Memasuki pukul 5 sore, udara dingin mulai semakin menusuk kulit. Kelompok Sufi nampak sudah kembali dari petualangannya, saya dan kelompok yang tinggal di tenda mulai menyalakan api untuk membakar sampah agar tidak menumpuk selepas memasak tadi, tentunya untuk menghangatkan diri juga.

API UNGGUN

Regina sempat menertawakan ittinerary yang saya buat mengenai event “Api Unggun”, tapi pada akhirnya sepertinya semua sepakat bahwa Api Unggun memang penting ketika berkemah di Gunung. Dingin cuy, gilakkk!!!

Mendekatkan diri pada api unggun, saya sangat bersyukur bisa mengamati wajah-wajah lelah namun tetap semangat dalam keremangan malam. Seolah momen ramah ini sangat ingin ku tahan agar berhenti lebih lama. Senyum dan tawa menghiasai obrolan malam di sekeliling api unggun, pun yang kebagian tugas untuk memasak. Riska yang tidak terlalu ku kenal dekat di Kampus, membuat momen malam itu seperti berulang pada tahun 2009 lalu, dimana saya adalah Maba dan Riska senior nya (Saya dan Riska berasal dari satu kampus beda jurusan, namun CS mempertemukan kami). Ruben dan Emma, dua bule inggris yang ikut serta menjadi contoh gambaran keramahan khas Indonesia malam itu yang ditunjukkan oleh kami semua sebagai putera/puteri Indonesia. Ruben dan Emma nampak senang meski lelah bisa ikut berdiskusi dengan semua.

Sebetulnya ada kejadian yang membuat Ruben dan Emma kesal hingga mengkerutkan dahi, pertama diskriminasi tarif angkutan yang akan dimahalkan, tapi saya berusaha untuk menangani itu. Masalah kedua ketika memasuki Pos Pendakian, penjaga padahal sudah melihat ada 2 bule yang mengikuti rombongan saya, namun baru diungkit ketika saya harus mengisi form pendakian, di sana Emma dan Ruben dibebankan tarif yang tidak wajar menurut saya hampir 8 kali lipat dari tarif turis domestik. Penting sih memang untuk menaikkan tarif bagi warga asing, tapi harusnya tidak terlalu jauh dengan tarif warga lokal dan tidak mengubah kesepakatan awal sebelumnya. Plin-plan, itu yang juga membuat saya cukup kesal pada pengelola pariwisata Papandayan.

Well, lupakan masalah tadi pagi, sampailah kami pada penghujung malam. Usai api unggun dan makan malam, serta diskusi kecil yang membuat tertawa saya himbau ke semua anggota untuk tidur, mengingat sepertinya kami semua memang kurang istirahat. Sambil ancang-ancang menyiapkan tenaga untuk kegiatan besok, menuju puncak… gemilang cahaya, menyatu janji #Eh #SalahFokus. Yah, pokoknya kami semua harus istirahat malam itu, untuk sekedar menyimpan tenaga dan menghangatkan diri di dalam tenda.

MINGGU, 8 SEPTEMBER 2013

Terbangun jam 4 pagi, seperti biasanya alarm saya selalu berbunyi pada jam tersebut setiap harinya. Terlebih lagi udara dingin memang membuat tidur saya tidak begitu nyenyak, melihat termometer di handphone saya, pagi itu menunjukkan suhu 10’C. Waaw, sangat ekstrim untuk suhu musim kemarau. Entah handphone saya ngaco atau tidak, tapi yang pasti saat itu memang terasa dingin sekali. Kaki saya sudah memakai kaos kaki double, tapi masih berasa berjalan menapaki balok es, dingin dan sakit menusuk hingga ke tulang rasanya. Terlebih bagi orang-orang kurus seperti saya, memang sangat berasa dinginnya. Khawatir pun menghinggapi pikiran saya pada Rahmat yang sama sekali tidak terlalu saya kenal, apakah dia bisa tidur dengan suhu se-ekstrim itu. Ternyata benar saja, Rahmat tidak bisa tidur dan berusaha keliling mencari tenda lain yang masih menyalakan api unggun nya untuk sekedar menghangatkan diri. Maaf Rahmat, sudah menyusahkan. Semoga ini menjadi pengalaman berharga, bagi saya sebagai ketua dan tentu Rahmat sendiri sebagai pembuat keputusan untuk bergabung dengan kelompok kami.

Istirahat

Istirahat menuju Tegal Alun

Udara dingin sepertinya membuat kami enggan bergerak jauh, ditambah kabut yang membuat jalan tidak terlalu jelas terlihat. Penerangan pada akhirnya dibantu matahari dan kebetulan yang saya ingat, Papandayan memang tidak memiliki Sunrise yang cukup baik. Sekedar bagus saja, bagi saya pribadi yang sebelumnya sudah melihat sunrise dari hutan mati, biasa saja, tidak ada yang special. Jam 5.30, saya, Frido, Rahmat, Lia memutuskan berangkat ber-empat, Regina bilang dia tidak kuat untuk berjalan jauh pagi itu. Mungkin karena dinginnya memang keterlaluan bagi mahluk Jakarta yang terbiasa kepanasan.

Perjalanan menuju Hutan Mati tidak memakan waktu yang lama, kami mampu mencapai hutan mati hanya 25 menit saja. Mengingat, semua anggota team saya memang sudah saya ajak melalui titik itu kemarin ketika mendaki. Lia satu-satu nya perempuan yang ikut dalam kelompok kedua yang keliling area Papandayan pun nampak bersemangat, maklum saja, Lia adalah anak Kota Malang yang dekat dengan daerah pegunungan juga, sama seperti Riska. Gunung Papandayan saja? cetek lah!

Hutan Mati

Hutan Mati, Papandayan

Tiba dihutan mati, saya mengambil beberapa gambar. Tentu Frido, Rahmat dan Lia juga. Layaknya orang Indonesia yang baru saja melihat hal baru, pasti harus diabadikan dalam kamera #Typical #Tampol :P. Suasana hutan mati pun banyak berubah, seingat saya dulu masih ada air biru kehijauan yang sangat sedap dipandang mata, namun musim kemarau kali ini membuat kondisi hutan mati benar-benar kering.

Tak banyak yang bisa kami lakukan di Hutan Mati, selain hal wajib tadi, berfoto. Kami melanjutkan menuju Tegal Alun, ini lah tempat wajib lainnya yang harus dikunjungi ketika berkunjung ke Papandayan. Memori saya sejenak kembali pada saat saya tiba pertama kali di Tegal Alun beberapa tahun lalu, hamparan Edelweis yang wangi membuat pikiran segar dan tenang. Sempat lupa bagaimana menuju Tegal Alun, saya bertanya pada beberapa pemuda yang melalui jalur yang kami lalui, maka semakin jelas bahwa saya menuju jalan yang benar.

TANJAKAN MAMANG

Tanjakan Mamang

Tanjakan Mamang, Papandayan.

Saya ingat kemarin Riska mengeluh tentang titik ini, hihihi. Tanjakan Mamang memang sangat curam, bahkan menurut saya sangat sulit dilalui. Kontur pasir berdebu yang rapuh, sekelilingnya jurang membuat kita harus ekstra hati-hati menanjaki Tanjakan Mamang. Berkat tanjakan ini, kami menghabiskan waktu cukup lama menuju Tegal Alun. Padahal menurut saya jarak Tanjakan Mamang dari Hutan Mati tidak terlalu jauh. Tapi apa boleh buat, memang seperti itu medannya.

TEGAL ALUN

Hamparan edelweiss yang sangat luas membuat saya betah berlama-lama di sini, bahkan ketika tiba di Tegal Alun sudah banyak pendaki lain yang sedang berjemur dan sekedar keliling mengambil gambar, tidak terkecuali saya, Frido, Rahmat dan Lia. Sayang sekali Regina tidak mencicipi Tegal Alun, mungkin di kesempatan selanjutnya. Kami tentu bisa berharap melakukan perjalanan bersama kembali.

Tegal Alun

Tegal Alun, Papandayan

Menuju puncak utama pun sepertinya harus kami batalkan, mengingat kami tidak membawa bekal apa-apa, kecuali kamera. Saking semangatnya, sampai lupa bawa minum, makanan sih bawa. ZOONNKKKK!!!. Gawat jika kami harus mendapat sindiran kedua, setelah yang pertama karena minyak goreng, masa saya sebagai ketua tidak belajar. Sampai titik bayangan, saya putuskan kembali ke Pondok Salada, mengingat saya sudah berjanji dengan teman-teman yang berjaga di tenda untuk segera kembali di bawah jam 9.

Tegal Alun

Tegal Alun, Papandayan

Benar saja, ketika kami tiba kembali ke Pondok Salada, tenda sudah siap-siap ditutup. Tidak terlambat, karena kami tiba pukul 8.30. Kami pun bergegas berkemas, menyalakan api kembali untuk membakar sampah agar beban kami untuk turun ke Pos Pendakian berkurang. Kami putuskan untuk turun melalui jalur konvensional, karena Regina menolak untuk menuruti ke-egoisan saya kembali untuk turun melalui Hutan Mati.

MENUJU JAKARTA

Perjalanan pulang kami lalui sesuai rencana pada ittinerary yang saya buat, kecuali satu hal. Ban bus pecah. Itu sama sekali tidak ada dalam rencana saya, hingga akhirnya kami pun terjebak kemacetan karena bus sempat tertunda 1.5 jam untuk mengganti ban baru, ada-ada saja.

Kami pun belajar banyak hal pada akhirnya, karena itulah tujuan awal perjalanan ini. Mempelajari apa yang tak biasa, namun membawa dampak positif bagi kita semua. Saya harus memahami kondisi lingkungan, anggota dan segala hal yang mendesak ketika dibutuhkan sebagai ketua acara. Saya pun banyak belajar dari Regina, bahwa jika kita optimis, pasti semua bisa dilalui dengan baik.

Entah, mungkin ada pelajaran yang bisa diambil oleh teman-teman satu sama lainnya. Sejujurnya saya banyak belajar dan masih lemah, dan tak mungkin rasanya jika saya ceritakan semua di sini. Yang pasti saya senang dan puas bisa meng-handle semua ini, meski masih banyak kekurangan.

OVERALL, TERIMA KASIH SEMUA NYA!!!
REGINA, SUFI, RISKA, LIA, FRIDO, RUBEN, EMMA, FERRY DAN RAHMAT. SAMPAI BERTEMU KEMBALI PADA PERJALANAN SELANJUTNYA.

 

CS ID : https://www.couchsurfing.org/people/izarbaik
Twitter ID : @izarbaik

Supported byFLIGHT 001 Gandaria City | Plaza Indonesia
https://www.facebook.com/Flight001Asia

Flight 001 : Travel Products

Flight 001 : Travel Products

Semoga, Ragu Ini Terbawa Mati Pada Detik Yang Lalu.

Pertanyaan hidup, aku yakin setiap manusia pasti punya itu selagi manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia dan dibekali akal. Ragu kerap kali datang ketika hendak memulai sesuatu, karena disetiap ragu itu ada pertanyaan yang menggantung. Untuk tahu jawabannya, tentu kita harus jalan terus, apa pun hasil dan resiko yang kita terima kelak. Keraguan ini hinggap ketika aku sudah tahu situasi, namun tetap mengambil resiko.

Tentang cinta, berkah lain yang Tuhan anugerahkan kepada manusia, kita memiliki rasa. Aku jatuh cinta, pada seseorang yang mungkin tak sepenuhnya bisa ku miliki. Kembali pada ragu yang datang, apakah dia mencintaiku kembali?

Setiap hari, ia menegaskan sesuatu yang tak perlu lagi kutanyakan apa jawabannya mengenai cintanya padaku. Ia mencintaiku juga. Dan ia juga mencintainya, aku yang tertegun mendengar pernyataannya mengenai orang ketiga adalah setan, aku adalah setan yang begitu dia cintai. Aku orang ketiga dalam hubungan suci mereka.

Entah mengapa aku kehilangan akal mengatasi ini, semua prestasiku di meja belajar seolah tak ada artinya. Aku tak bisa berfikir dengan baik, yang aku tahu aku ingin tetap bersamanya walau semua itu salah dan mungkin kelak ia akan menendangku jauh. Tidak sepenuhnya salah, karena ia juga menginginkan ku selalu didekatnya saat ini. Entah, tapi itu cukup adil.

Bagiku, setiap detik yang telah berlalu adalah jarak terjauh yang pernah ada di dunia ini, karena tidak ada satu kendaraan pun yang mampu mengantarku ke sana. Setiap detik yang lalu, bisa juga ku katakan kematian waktu, ia mati bersama masa lalu ku. Ragu ini, tentang cintanya padaku, aku berharap ia ikut terbawa mati pada detik yang lalu. Semoga.

Tidak ada keraguan sedikit pun bagiku untuk mengatakan, aku mencintainya. Tuhan punya andil dalam rasa yang telah Dia beri pada ku. Cinta datang ke dalam hati, tulus tanpa aku tahu sejak kapan dia bersarang di relung hati. Seingatku, Tuhan adalah pemilik segala rasa. Aku menyalahkan Tuhan? Tidak!. Aku bersyukur atas rasa ini, karena cinta yang aneh ini tak pernah ku miliki sebelumnya.

Ku tulis ini, 1 Ramadan menjelang imsak. Pesannya tetap masuk, mengingatkan ku untuk segera makan sahur. Hari ini, Rabu 10 Juli 2013 ia akan melakukan perjalanan dinas ke Tanah Sumatera. Mungkin akan 1 bulan aku tak bisa menatap wajahnya tersenyum, atau cemberut ketika kesal. Sumatera, Tanah kenangan dimana masa lalu ku ada di sana. Semoga ia membawakan ku sesuatu sepulangnya dari sana, pun sekedar butir pasir yang bisa kujaga sebagai pemberian dari nya.

Kamu yang aku cintai, berbahagialah! Karena itu bahagiaku.

Cemas Menunggu Pagi

Sejak, entah kapan cerita dimulai.
Aku tidak benar-benar tahu, dia sudah tertambat di dalam.
Di titik kecil paling dalam hati, ada cahaya kecil tapi kuat.
Bercahaya terang, tak terganti, tak terjelaskan.

Tiap malam datang, aku cemas ketika menyadari bumi berputar.
Sedikit cemas menunggu pagi.
Cemas ketika cahaya lain datang, kemudian menerangi hari.
Cemas ketika cahaya kecil di malam hari menghilang.

Malam adalah keindahan, sudah lama aku tahu.
Malam juga pusat cerita, selama aku hidup.
Lagi, sedikit cemas menunggu pagi.
Entah cahaya kecil itu akan bertahan atau tidak.

Tambatan di dalam hati, untuk cahaya kecil.
Sudah ku jaga dia sebaik mungkin agar tak pernah padam.
730 hari lebih, walau tak sepenuhnya ku sadari sejak itu.
Aku tak punya alasan, satu pun, tak terjelaskan.

Are You in Love?

Actually, this is my last Saturday night story. I visited my friend house, then I also met his little brother. His name was “Beeeeppp – censored”, 15. I was talking to him about his girlfriend and why did he doesn’t come out like other teenagers at Saturday night. I dunno how to start this, but, I dunno, then he was talking to me about his love story. And I absolutely made my self as a good listener like a psychologist :D.

He asked me, “Bro, do you really know how does the fall in love feel is?”. Umm… I said “Are you in love?. Owh, you’re growing up now! -lol”. He looked shy and blushing all the way after I yelled him. Thought, I told him that if you’re in love, …

First, this is akward but sometimes a true point. You’ll think that there’s a lot of butterflies flying inside your tummy. No matter day or night. He laughed but then he said YES. (reader, are you agree too? :D).

The second one is, you will find yourself talking to or telephoning the person for no reason. (You might pretend there’s a reason, but often there’s not). Or nowadays, you used to stalk the person by looking his/her facebook or even twitter accounts. He said “how do you know?” :D.

Next things, you will find yourself bringing this person into every conversation. For example, when someone begins “I love Owl City”. You interrupt with, “Hey, my girlfriend also love them too”, and bla-bla-bla. I saw his face, then he’s smile :). You know what does it mean!

The last one, you might suddenly be interested in thing that you used to avoid. (Actually this is so me!). But yeah, I don’t think 21 is teenager anymore. Aaaaarrrgggghhhh, I’m a teenager :D.

Alright, my friend brother was crazy cause he always agree with every single of my opinions. I told him “Okay, I know you’re in love”. I was yelling him loudly ’til his older brother knows it. Dude, falling in love is one thing, but staying in love is another. How can you tell, as time passes, that you’re still in love?

If you’re stay in love, your relationship will change. You might not talk as much about the person you are in love with. You might not always call him/her so often. BUT, this person will nevertheless become more and more important in your life.

You’ll find that you can be yourself with this person. When you first fell in love, you were probably afraid to admit certain things about yourself. But now you can be totally honest. You can trust him/her to accept you just as you are.

So, Are You in Love?

Matematika Masa Biru

Halo Matematika, apa kabarmu?
Dahi tiba-tiba mengkerut, “seperti pernah mengenal nama itu sangat dekat” kata diri dalam hati. Sejenak pikiranku kembali menerawang masa lalu, meyakinkan kata dalam hati, apakah aku benar-benar pernah mengenalnya? bahkan sangat dekat melebihi kedekatan ku dengan nama-nama lain. Matematika, sungguh benar-benar tak asing namun sulit menjelaskan keragu-raguan ini.

Setelah lama pikiranku menerawang, akhirnya ku temukan masa dimana aku bisa mengingat dengan baik saat aku mengenal Matematika begitu intim. Di masa Biru, ya aku sangat yakin di masa itulah aku mengenalnya, ini tidak tentang Biru, ini tentang dirinya, Matematika. Di masa itu, ada senyum bahagia dan pandangan negatif terhadapku, namun Matematika seolah meyakinkan aku untuk tetap melangkah, bersama Biru.

Sore hari sepulang kuliah, aku tergoda untuk berhenti di pinggir jalan dan membeli beberapa potong gorengan yang tak ku makan semua pada akhirnya, ini sungguh tak biasa, karena aku memang tak terlalu suka dengan goreng-gorengan, mungkin sesekali saja. Bukan apa-apa, karena aku termasuk orang yang ringkih dan mudah terserang penyakit jika saja tak melindungi diri dengan melakukan pencegahan, gorengan adalah salah satu musuhku, tapi tetap saja aku coba cari perkara dengan mendekatinya. Entahlah, seperti ada dorongan magis bahwa melanggar pantangan dan aturan adalah titik dimana kita akan menemukan rasa puas. Kepuasan yang lagi-lagi tak terjelaskan dan entah mengapa semua yang tak terjelaskan malah ku tulis yang pada akhirnya membuat Pembaca juga bingung.

Semua tentu tahu bahwa di seluruh dunia yang namanya gorengan pinggir jalan pasti memiliki kertas sebagai pembungkusnya (sudah cukup lebay belum? :D). Nah, di sana ada coretan yang semakin membuat aku bertanya tentang kabar Matematika yang nyaris tak ku temui beberapa tahun terakhir. Bertemu beberapa kali, namun tak intim seperti dulu, di masa Biru. Secarik kertas ajaib yang tak sempat ku foto dan tentu telah membuat aku terdiam sejenak dan kemudian malah lebih asik memandanginya ketimbang menikmati isi didalamnya, Pasukan Gorengan!. Mungkin Pasukan Gorengan akan komplain seperti Ibu ku yang selalu saja berceramah panjang lebar jika makanan ku tak habis “Ya ampun izaaar… Kapan gemuknya kamu, makan sering ngga habis!”. And well, semacam itu mungkin, mungkin dan mungkin. Tapi aku tahu bahwa itu ungkapan rasa sayang Ibu terhadapku, semua Ibu pasti melakukan hal yang sama terhadap anak-anak mereka.

Aku ingat, saat itu Ika, salah seorang teman sekelas ku mendatangi ku dengan membawa selembar kertas kucal yang sudah berminyak, menjijikan tapi ada informasi penting di sana. Ika tergesa-gesa, belum lagi sempat membersihkan keringatnya, Ika langsung saja menjulurkan tangannya yang sedang memegang kertas tersebut ke hadapan wajah ku, “Zaaar… coba liat ini, nama lo, ini kertas ujian lo! Gila sumpah keren banget!”. Yah, aku memang melihat selembar kertas ujian harian, entah apa ya menyebut ini di era kuliah, mungkin kuis? Terserah bagaimana menyebutnya, di sana ada nama ku karena memang itu kertas ujian milikku, lengkap dengan nilai 10, sempurna. Seperti ada tradisi, setiap kali ada kuis, hasilnya memang tak pernah dikembalikan, tahu-tahu ketahuan saja siapa yang akan berpeluang rangking di tiap kelasnya.

Tahap pemanasan sudah sering kali terlewati, termasuk tiap kali aku duduk di perpustakaan sendiri, kemudian menghadapi berbagai pertanyaan negatif dari guru-guru lain “Lhoo… kenapa kamu keluar kelas? Kenapa kamu tidak ikut ujian? Kenapa kamu tidak bersama teman?” Dan berbagai pertanyaan lain yang seolah menyudutkanku, jika saja aku bisa menjelaskan dengan baik keintiman ku dengan Matematika. Namun pada akhirnya semua tahu bahwa aku dekat denganmu Matematika. Sebenarnya Matematika, tak hanya dirimu yang membuatku menghadapi pertanyaan negatif, jadi kamu tenang saja, ini bukan salahmu. Karena Biologi dan Fisika juga teman terbaikku, teman bermain kita di masa Biru, kamu pasti ingat, kan?

Dua buah kado terbungkus rapi, saat itu tergeletak di depan kelas, Ibu Toyum sang mediator antara aku dan Matematika yang membawanya. Salah satu kado itu rencananya akan diberikannya kepada murid tersayang, Aku. Aku pun begitu, sangat menyayangi Ibu Toyum, sampai satu sekolah menjuluki diriku adalah Anaknya Ibu Toyum, hahaha itu lucu. Kemudian kado yang satunya, akan diberikan pada siapa pun yang berhasil menyelesaikan tugas darinya dengan waktu tercepat dan hasil paling baik. Dengan lugunya aku bertanya “Bu, aku boleh ikut?”, “Oohh… tentu saja, ini berlaku bagi semua siswa di kelas 2.4 ini” Jawab Ibu Toyum dengan lembut.

Waktu yang diberikan habis, sebentar saja karena soal yang diberikan memang hanya 3 butir, aku masih ingat dengan baik berapa jumlah soalnya, karena itu memang momen yang sangat berkesan bagi saya. Kemudian semua siswa mengumpulkan tugasnya, Ohya… Sebelumnya Ibu Toyum sudah memberikan tugas ini di seluruh kelas (8 kelas) dan dengan soal yang sama, menurut Ibu Toyum begitu, tapi kami sungguh-sungguh tidak mengetahui atau berusaha mencari soal bocoran dari kelas lain. Yah, kelas 2.4 memang dapat giliran terakhir untuk sesi perebutan kado tersebut. Setelah dikoreksi, wajah Ibu Toyum memancarkan raut kecewa, tebakan ku kali ini, kami semua pasti tidak ada yang berhasil menyelesaikan soal dengan baik. Dan benar saja begitu.

Ibu Toyum kemudian meminta Puput maju ke depan untuk mengerjakan soal yang ditugaskan, Puput adalah siswa rangking 1 di kelas 2.4, kebetulan aku hanya menduduki rangking 2 di semester pertama, padahal nilai rapor ku 8 point lebih tinggi dari Puput, ada yang salah? entahlah, aku ikhlas. Puput selesai mengerjakan kembali tugasnya di papan tulis, dengan senyum khas nya, dia berhasil mengerjakan soal pertama dengan baik dan benar. Kemudian soal kedua, giliranku yang maju untuk melakukan hal yang sama dengan Puput, hasilnya pun sama, benar bagi ku untuk soal kedua. Dan soal ketiga? Ibu Toyum menahan ku sejenak, beliau meminta ku untuk mengerjakannya. Dag dig dug hati ini, kenapa aku kembali yang harus mengerjakannya? Kemudian aku diminta juga untuk menjelaskan mengapa aku bisa menjawab demikian dan bagaimana caranya. Wah…

Maka diumumkan pemenang tugas kali itu dan disebutkan pula bahwa Puput bukanlah yang terbaik. “Apa?” hatiku bertanya. Suara lirih Ibu Toyum berucap “selamat Izar! kamu dapat nilai paling baik diantara semua”. Bengong melanda kelas, sulit dipercaya bahwa Matematika merangkulku begitu dekat dan erat. Dibacakan pula hasilnya bahwa ternyata hanya aku seorang yang benar semua dari 3 butir soal yang diujikan, dan Puput? hanya benar 1 soal saja. “Sepertinya ada yang tidak beres dengan Ibu Toyum” Pikirku kembali dalam hati, aku bingung harus berkata apa, namun dari penjelasan Puput dan aku sendiri di papan tulis, semuanya memang persis dengan jawabanku yang artinya Ibu Toyum memang tidak salah koreksi. Disebutkan pula bahwa ternyata dari seluruh kelas, hanya aku yang berhasil mengerjakan semua soal dengan benar. Best moment!

Well, Matematika… Aku rindu dirimu, tapi aku sadar sulit menggapaimu kembali. Nanti akan aku ceritakan padamu mengapa aku sadar bahwa kamu bukanlah jalanku, namun aku bahagia kamu telah menjadi sahabat terbaikku di masa Biru, tak ada yang lebih baik darimu saat itu, namaku seolah melambung tinggi tak terjangkau olehku sendiri. Sekarang sudah jam 4 pagi lebih, aku mengerjakan tugas semalam suntuk bersama sahabat baruku, masa depanku tersentuh oleh sahabat baruku itu, aku lelah ingin sejenak beristirahat, karena jam 8 pagi aku ada janji dengan sahabatku itu di kelas. Sholat dan kemudian aku tidur, semoga aku bertemu denganmu Matematika.

Sedikit Kenangan

Minggu lalu, saya begitu iseng dan ngga ada kerjaan. Daripada bengong, nanti ayam tetangga ada yang mati (eh – abaikan), hehehe. Saya coba beres-beres buku di gudang yang lumayan banyak dan udah ngga karuan ke urus, berdebu pula. Sebenernya saya lumayan males buat beresin tumpukan buku itu, tapi entah kenapa hari Minggu itu berasa ingin saja.

Baik, sekilas info saja. Tumpukan buku tersebut sebenarnya sudah hampir dibuang atau bahkan mau dijual ke tukang barang bekas oleh Ibu saya, tapi saya larang terus. Alasan Ibu karena saya terlihat kurang perhatian dan daripada bertumpuk terus ngga berguna, mending dijual. Tapi yah itu, entahlah agak sulit menjelaskan keinginan hati menyimpan buku-buku tersebut. Sebenarnya tumpukan buku itu cuma buku-buku tulis saya selama sekolah, mungkin dari SD juga ada kali. Buku-buku paket pelajaran dan bacaan lain terkadang sudah langsung ada yang meminta, nah kalo itu saya setuju. Karena ilmu yang ada di buku paket bisa bermanfaat ke pelajar generasi bawah saya. Tapi masih ada juga sih sebagian yang tersisa.

Dulu saya ingat, begitu rajin saya beli buku karena memang senang sekali baca buku. Imaginasi begitu luas dan tidak ada yang membatasi diri saya ketika sedang serius membaca, berbeda dengan nonton film yang cenderung kita diarahkan oleh sang sutradara untuk mengikuti alur yang diarahkannya. Saya suka juga sih nonton film, tapi tetap selektif!. Kebiasaan baca buku sebenernya ketularan dari ortu, atau mungkin semacam “racun” yang didoktrinkan sejak saya kecil. Dulu sebelum sekolah, saya ingat Ibu pernah membelikan saya majalah anak-anak, di sana ada cerpen tentang Air yang sampai sekarang tetap terngiang di lintasan pikiran dan memori saya. Judul cerpennya “Kisah Si Titik Air”.

Belum bisa baca, tapi saya paksa Ibu buat bacakan cerpen itu berulang-ulang setiap malam. Sampai saya hafal waktu itu, sekarang masih ingat juga sih, tapi cuma sebatas gambaran umum saja. Jadi cerpen itu berkisah tentang perjalanan setitik mata air dari asalnya di dalam tanah, terangkat lewat kran, terminum, kembali ke tanah, terpakai mandi dan sebagainya sampai akhirnya Si Titik air itu berlabuh ke laut tidak kembali. Betapa bermanfaat air, begitu kira-kira pesan cerpennya. Ya Allah, seandainya ada mesin waktu, saya rindu saat itu. Benar-benar rindu, terkadang sering merenung dan sedih tanpa sebab ketika waktu saya sudah terlewati begitu banyak.

Well, kita kembali ke beres-beres gudang. Hampir mirip sih, mengenang masa lalu kembali. Kadang inilah bagian yang paling saya benci menjalani hidup, mengenang masa lalu. Demi Allah, saya tidak ingin terlalu bersedih memikirkan masa lalu, hidup adalah untuk masa depan, walau tetap harus belajar dari masa lalu. Basi!!! yah, katakanlah begitu, tapi saya begitu percaya dan selalu menjalani konsep dan prinsip tersebut.

Sebuah buku tulis bersampul cukup bagus, bahkan cenderung masih bagus saya temukan diantara tumpukan yang lain. Begitu menarik, Bimbingan Konseling. Hey, don’t judge the book by it’s cover, hehehe. Saya buka perlahan dan tertulis tahun 2004. Ohh… memori menerawang kembali pada saat saya kelas 8 SMP (Kelas 2), tidak terlalu ingat awalnya. Saya buka kembali beberapa halaman berikutnya dan saya mulai tersenyum, entahlah dalam hati terasa tangisan yang membahagiakan. Banyak catatan BK yang sifatnya pertanyaan-pertanyaan pribadi yang begitu menggelikan ketika saya baca ulang.

Cerita tentang pengalaman berpacaran ketika SMP pun ada, hehehe -jadi malu-. Saya ingat, saya ingat semuanya. Saya ingat ketika itu Guru BK saya, Pak Saman meminta saya dan teman-teman untuk membuat semacam sebuah catatan seperti diary dan keinginan, agak aneh sih anak jaman sekarang buat diary, apalagi laki-laki, mungkin jarang atau mungkin ada? saya kurang tahu pasti. Tapi yang pasti, hal itu cukup bermanfaat ketika kita sedang bermasalah dengan apa pun, percayalah mengurai emosi lewat tulisan begitu menyenangkan. Apalagi ketika kita sering merasa dikecewakan orang lain, maksudnya ketika kita curhat, tapi masalah malah tambah banyak dengan bocornya rahasia tersebut. Saya termasuk diantaranya, begitu alasan saya pada Pak Saman waktu itu dan saya masih ingat bagaimana mengatakannya.

Ada satu hal menarik lagi, hmm… menarik ngga yak? hehehe… Bagi sebagian pelajar, Ruang BK/BP adalah tempat yang cukup menankutkan untuk dikunjungi, dulu saya juga berfikir begitu. Abis kalo keliatan dari luar, cuma anak bandel yang terus menerus dipanggil guru BK dan bolak-balik kesana. Kesannya kayak penjara gitu, yang salah kena hukuman. Tapi setelah saya dipanggil guru BK karena suatu masalah, saya seterusnya malah sering berkunjung meski tanpa masalah. Ketika itu, teman saya Desi Twiwijayanti membawa ular karet, yang konturnya benar-benar mirip dengan ular sungguhan, serius tidak bohong, yang baru pertama kali liat pasti akan langsung kaget dan nyangka itu ular beneran. Nah, muncullah ide iseng buat ngerjain orang yang masuk ke dalam kelas dari luar, kebetulan saya duduk di kursi nomor 3 dekat pintu, jadi agak mudah buat ngelempar.

Dan tibalah Ibu Ai masuk kelas, guru Bahasa Indonesia yang memberikan saya nilai 5 saja di raport (selanjutnya jadi 9 setelah minta maaf). Dengan santai dan isengnya anak SMP, saya lemparlah ular karet milik Desi itu ke depan Ibu Ai, dasar anak bandel 😀 . Spontan Ibu Ai langsung kaget dan mempermasalahkan hal tersebut, terseretlah pertama kali saya ke Ruang BK (DUILLEEEE bahasanya, terseret. hahaha). Dan Desi pun ikut ikut dalam masalah tersebut karena dia pemiliknya (kasian bener, ngga tau apa-apa padahal). Well, justru dari hal itu saya sangat berterima kasih dengan Desi dan Ibu Ai, wah kangen sama kalian deh pokoknya. Sumfeh!!

Banyak hal menarik yang membuat saya duduk di atas debu tanpa sadar dan senyum-senyum sendiri di gudang, karen buku tulis itu. Selanjutnya saya tidak akan meminjamkan buku itu pada siapa pun, karena itu bener-benar catatan dosa dan kebodohan yang -sangat- konyol, malu juga sih. Berlanjuta terus tanpa sadar sudah hampir 1 jam saya duduk membaca buku itu sambil membayangkan kembali situasi saya saat kelas 8. Dulu waktu SMP, saya pernah bilang pada seluruh teman-teman, pengalaman paling menarik dan indah ada di kelas 8 itu, entahlah. Nanti akan saya ceritakan, yang menurut sebagian orang justru buruk sekali saya di kelas tersebut. Maklum lulusan kelas 7.1 alias kelas super unggulan :p.

Sampai pada beberapa halaman terakhir, ada kotak berisi nama seluruh teman sekelas saya di 8.4, dan saya langsung ingat tanpa harus membaca, hahaha. Itu lucu sekali, karena di sana adalah momen tersedih saat itu karena dekat dengan kenaikan ke kelas 9. Di sana ada kotak berisi kesan dan pesan teman-teman terhadap saya karena sebentar lagi akan pisah kelas. Pertanyaan stabdar, apa pendapat kamu tentang saya dan apa yang sebaiknya saya lakukan di kelas 3 nanti. Percayakah anda bahwa 100% teman sekelas saya mencantumkan kana “Pintar” di kolom pendapat?

Menurut mereka begitu, saya pelajar pintar, eh ini pintar pelajaran yakkk bukan pintar yang lain, tapi serius nih bukan sombong, saya memang tidak pernah keluar dari ranking 3 besar selama SMP. Bahkan cenderung jadi favorit guru, sering dikasih buku gratis dari guru karena mereka tahu saya suka baca, makasih ya bapak ibu guru semua, I lop yu pul dah.

Setelah diamati, waktu itu saya protes ke teman-teman yang lain, koq mereka kompakan kasih pendapat begitu. PLease lah ditambah komen yang lain, dan akhirnya pada sewot semua. Saya ingaaaaaat semua itu dan sungguh kangen. Sebetulnya sih sudah ada komen lain selain pintar, misalnya dibilang playboy lah (busehhh… bocah SMP dibilang playboy, ngaco emang itu temen SMP semua). Duh, kemanakah Arief teman semeja saya? Rizal, Novel, Desi, Musa, Ika, Dewi, Febrianti, Febriana, Agus, dan semuanya… Ya Allah, do’a saya semoga semua teman-teman dalam keadaan baik dan sukses, amien.

Yang paling membuat saya sedih adalah komentar dari Almarhumah Nok Riyah, salah satu teman terdekat saya ketika itu. Kebetulan waktu kelas 7 kami sekelas, jadi begitu masuk kelas 8 kami langsung akrab. Beliau meninggal ketika kami kelas 9 dan itu juga momen paling menyedihkan bagi saya. Sekarang cuma do’a saja yang bisa saya kirimkan ke beliau, walau mungkin Allah sudah menyampaikan padanya bahwa saya begitu menyanyangi dia sebagai sahabat dan selalu mendo’akan yang terbaik baginya. Iyah (panggilan beliau) bilang “Zar, jangan lupa makan yak, kamu kurus banget! Nanti kelas 3 harus lebih gemuk dari ini, supaya lebih pintar”. Huhu, sedih bacanya (masih ada terusannya padahal).

Huh, ngga kerasa udah mengenang memori masa lalu lewat sebuah buku, cuma buku tulis doang padahal, tapi itu harta saya yang tidak ternilai, setiap momen yang saya lalui adalah harta berharga. Mungkin teman-teman juga? Yah… setidaknya manfaatkanlah waktu kalian dengan baik, jika tak ingin ada penyesalan nantinya. hmm… banyak sekali perubahan yang terjadi pada saya setelah masa-masa SMP, bukan hanya fisik tapi karakter dan sikap juga sih katanya, semoga itu lebih baik. Padahal saya merasa begini-begini saja dari dulu, tidak ada yang spesial, bahkan jadi bodoh karena terlalu sibuk memikirkan banyak hal, ah… dewasa membuat saya banyak pikiran.

Well, salam semangat, semoga semua selalu dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Fight!

Christina Perri – Jar of Hearts

A friend recommended me this song, Actually I never heard Christina Perri names at the first, I just think that it’s Katy Perry or whatever :D. Well, I try to search about, I found her songs and here is one of them, Jar of Hearts. So, How do I think about? – I like at the first time to hear it.

I know I can’t take one more step towards you
Cause all that’s waiting is regret
And don’t you know I’m not your ghost anymore
You lost the love I loved the most

I learned to live half alive
And now you want me one more time

And who do you think you are
Running ’round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You’re gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don’t come back for me
Who do you think you are

I hear you’re asking all around
If I am anywhere to be found
But I have grown too strong
To ever fall back in your arms

And I’ve learned to live half alive
And now you want me one more time
And who do you think you are
Running ’round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You’re gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don’t come back for me
Who do you think you are

Dear, it took so long just to feel alright
Remember how to put back the light in my eyes
I wish I had missed the first time that we kissed
Cause you broke all your promises
And now you’re back
You don’t get to get me back

And who do you think you are
Running ’round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You’re gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don’t come back for me
Don’t come back at all

And who do you think you are
Running ’round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You’re gonna catch a cold
From the ice inside your soul
Don’t come back for me
Don’t come back at all
Who do you think you are?
Who do you think you are?
Who do you think you are?