just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Posts tagged ‘Mount’

Papandayan Random Trip

Halo kawan!
Sudah cukup lama sepertinya sejak terakhir kali saya menulis di-blog ini. Sok, ngartis nya sih saat ini sedang sibuk dengan beberapa aktifitas di dunia pendidikan dan yang pasti kerja juga, sebagai pendukung hobby saya bepergian ke berbagai tempat, yap semua memang butuh uang. Baiklah, langsung saja saya akan bercerita mengenai perjalanan saya ke Gunung Papandayan tanggal 6-8 September 2013 lalu, bersama beberapa teman.

PESIMIS

Berawal dari sebuah celetukan iseng salah satu member cs, Regina di group whatsapp CS yang kami buat. Regina mengajak saya untuk mendaki Gunung Papandayan, yang entah bagaimana ceritanya, saya menjadi korban. Dalam hal ini, kemudian malah saya yang sibuk meng-organisir dari awal hingga akhir acara.

Mungkin alasannya karena saya pernah 2x ke Papandayan sebelumnya di tahun 2009 lalu. Aaak, tapi terima kasih Regina, bahwasanya saya belajar untuk meng-organisir diri sendiri dan kelompok, hidup capres 2014! #LOH #GagalFokus :D.

Saya putuskan untuk jalan pada tanggal 30 Agustus, yang pada akhirnya pending ke 6-8 September kemarin. Alasan pending karena kesiapan materi utama, yaitu tenda tidak tersedia pada tanggal 30 Agustus, dari situ saya mulai pesimis bahwa event ini akan berjalan dengan baik, atau buruknya bahkan batal sama sekali. Tapi berkat “paksaan” Regina, saya justru semakin tertantang bahwa event ini harus tetap berjalan.

Bertubi-tubi pertolongan datang, kemudahan informasi dan sikap kooperatif peserta yang berencana ikut juga sangat membantu, ini lah bagaimana team harus berjalan. Kompak dan saling membantu, melengkapi jika ada yang kurang. Mulai dari Sufi yang akhirnya bersedia ikut dan meminjamkan tenda, Frido yang juga banyak memberi informasi kemana harus mencari alternatif tenda, Riska dan Lia yang sangat antusias memberi semangat. Semua saling mengisi.

PESERTA

Pada awalnya, ada 15 orang yang akan ikut mendaki ke Papandayan dan kesemuanya adalah member CS yang sudah saling kenal satu sama lainnya, namun karena saya memutuskan untuk pending waktu pelaksanaan, beberapa banyak yang mundur dan bahkan men-judge bahwa acara ini pasti akan gagal terlaksana. Bingung pun datang, peserta hanya tinggal 6 orang yang benar-benar niat ikut, saya dan Regina, Riska, Lia, Ruben serta Emma. Saya tetap optimis, open trip kembali ke berbagai teman dekat dan kami tetap mengajak beberapa teman CS dalam group yang sudah kami buat sebelumnya. Regina sangat semangat dalam hal ini, kurang lebih 4 hari sebelum berangkat, akhirnya Sufi positif ikut. Ditambah saya mengajak Frido, dari Depok dan Ferry, teman dari Regina. Maka, peserta positif menjadi 9 orang.

Dan di 3 hari terakhir, saya berhasil mendapatkan info bagaimana mendapatkan tenda atas bantuan Frido. Penyewaan tenda yang harga nya relatif murah dan mudah dijangkau dari posisi mayoritas kami masing-masing di Jakarta Selatan.

Bertemu sapa dalam group whatsapp couchsurfing, membuat kami saling terhubung satu sama lain. Pada dasarnya, hanya saya, Regina dan Sufi yang berawal dari group whatsapp CS yang sama, kemudian merembet ke yang lainnya. Maka, kami putuskan ini hanya sekedar perjalanan senang-senang saja tanpa konsep yang mengikat dan mewajibkan peserta untuk dipatuhi. Tapi, saya tetap membuat rencana perjalanan dan hal-hal detail lain yang juga sangat penting untuk diperhatikan. Karena berjalan tanpa tujuan, bukanlah misi yang ditawarkan dalam jejaring sosial bernama couchsurfing ini.

JUM’AT, 6 SEPTEMBER 2013

Hah! akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Jum’at, 6 September 2013 kami siap berangkat menuju pendakian ke Gunung Papandayan.

Sesuai ittinerary yang saya buat, kami berangkat dari terminal Kampung Rambutan pukul 10 malam, atau selepas kerja bagi yang masih bekerja. Menyiapkan ongkos 42 ribu (Jakarta – Garut) bagi saya cukup mahal karena jarak tarif sebelum kenaikan bbm sangat jauh, hanya kisaran 30-35 ribu saja.

Masalah pertama pun muncul, ketika satu persatu diantara kami datang terlambat ke terminal Kampung Rambutan, Regina dan Riska adalah yang terakhir, sekitar pukul 10.30 malam mereka baru tiba. Oh, saya sendiri datang paling pertama, jam 8 malam saya sudah tiba di Kampung Rambutan, disusul kemudian Frido, Ruben dan Emma, dan seterusnya hingga akhirnya Riska dan Regina yang terakhir, seperti yang sebelumnya saya tuliskan.

Kami baru benar-benar menuju garut, tepat jam 12 malam, entah ada kesalahan apa di armada bus yang kami tumpangi, kami diajak keliling dulu, sampai bertemu tukang manggis yang bilang dagangannya tinggal 2 ikat (sudah dibeli orang), kemudian dia tidak sadar masuk ke bus yang sama dan mengatakan hal yang sama, bahwa dagangannya tinggal 2 ikat lagi (Lah, yang tadi?). INI PERILAKU TIDAK JUJUR YANG HARUS KITA HINDARI, SEPAKAT YAA!!!

SABTU, 7 SEPTEMBER 2013

Terminal Guntur

Terminal Guntur, Garut

Setelah hampir 4 Jam perjalanan, kami tiba di terminal Guntur, Garut. Udara dingin kota Garut mulai merambat ke kulit yang terasa cukup menyayat, ditambah hembusan angin kemarau yang kencang membuat bulu kuduk cepat berdiri. Well, sebenarnya waktu tiba di Garut kami terlambat dari prediksi di ittinerary, karena dari Jakarta nya sendiri memang terlambat berangkat juga. Tapi, tidak masalah karena waktu tunggu kami untuk melanjutkan perjalanan ke pos pendakian gunung menjadi lebih sedikit.

Terhampar duduk di depan sebuah minimarket, kami menunggu sopir menawarkan jasa nya untuk mengantar kami ke Pos Pendakian. Berbagai aktifitas mulai dilakukan, yang sholat subuh, ke toilet sekedar menyegarkan diri, atau sekedar rebahan kembali di depan minimarket layaknya gelandangan di emperan toko #Peace.

Waktu menunjukkan pukul 5.30, Saya dan Sufi mulai bernegosiasi dengan Sopir angkutan di sekitar terminal Guntur untuk mengantarkan kami ke Pos Pendakian. Sejujurnya kami merasa tertipu dengan kesepakatan antara kami dan Sopir. Mereka bilang bisa mengantar kami 9 orang menuju Pos Pendakian dengan harga 150 ribu rupiah, namun ternyata kami hanya diantar sampai pintu gerbang desa Cisurupan. Dan dari desa Cisurupan sendiri kami harus menaiki mobil bak terbuka dan yang pasti akan mengeluarkan biaya kembali. Seingat saya dulu, dari terminal Guntur ada angkutan yang memang mau mengantarkan ke Pos Pendakian, atau mungkin sistem transportasinya sudah berubah supaya terasa lebih fair bagi kedua belah pihak, angkot dan mobil bak terbuka. Jadi, total kami harus mengeluarkan uang +/- 37 ribu per orang dari terminal Guntur menuju Pos Pendakian.

PESERTA KE SEPULUH

Ketika kami tiba di gerbang desa Cisurupan, kami mengalami kesulitan tawar menawar dengan sopir mobil terbuka, mengingat minimal keberangkatan agar lebih murah adalah 10 orang, artinya kami minus 1 orang untuk dapat kesepakatan harga. Saya dan Sufi masih terus bernegosiasi, dan akhirnya kami melihat 1 orang galau yang juga ingin menuju ke Pos Pendakian. Bertemu lah kami dengan Rahmat, yang menggenapi perjalanan ke Pos Pendakian menjadi 10 orang.

10 Pendaki

10 Pendaki, Papandayan

Setiba nya di Pos Pendakian, Rahmat menawarkan diri untuk menjadi anggota rombongan kami. Berhubung kami pun kurang 1 anggota agar genap dan memudahkan ketika menaiki transportasi, maka saya putuskan Rahmat gabung ke dalam team kami. Dalam pendakian, saya dan Rahmat banyak bercerita hingga akhirnya saya tahu bahwa Rahmat pun member couchsurfing dan saya tawarkan pula  Rahmat untuk ikut serta camping, sayang sekali jika Rahmat hanya mendaki dan kemudian pulang di hari yang sama. Sebetulnya, saya tahu Rahmat sudah memiliki agenda lain untuk eksplorasi kota Garut, seperti ke Candi Cangkuang misalnya, namun di lain hal saya juga memperhatikan bahwa Rahmat nampak antusias dengan tawaran saya untuk ikut Camping di Pondok Salada. Maka Rahmat pun ikut serta camping :D.

REGINA HHHHHHH

Regina

Regina dalam pendakian

Menjadi awal yang menarik ketika Regina mencetuskan ide mendaki Gunung Papandayan di awal Agustus lalu. Bagaimana tidak, mendengar cerita salah seorang teman yang pernah ke Curug Nangka bersama Regina, mbak satu itu sepertinya nampak kapok dan tidak akan menaiki gunung lagi. Tapi, saya sendiri belum pernah jalan jauh bersama Regina setelah kenal sekian lama. Maka saya terima tawarannya untuk merencanakan perjalanan ke Papandayan.

Dalam pendakian kali ini, saya sangat beruntung karena ada 2 orang yang sudah pernah mendaki Papandayan sebelumnya yaitu saya dan Sufi. Proses pendakian saya bagi menjadi 2 team, walau tak secara langsung mengatakan itu pada Sufi, sepertinya Sufi nampak faham bahwa kode saya bisa dimengerti. Sufi memimpin perjalanan paling depan, sehingga bisa disusul Riska, Emma dan Ruben. Sementara saya bergantian dengan Ferry berada di urutan terbelakang. Fungsinya? Tentu sebagai Ketua Regu, saya harus bertanggung jawab atas seluruh anggota, termasuk Reginahhh yang nampak kelelahan terus menerus. Tapi sebagai Team, kita semua harus saling support dan membantu. OKE LANJUT?!!!

SALAH ARAH???

Diam-diam, pikiran iseng saya muncul ketika proses pendakian. Berhubung sudah tertinggal jauh dengan rombongan Sufi, Riska, Emma dan Ruben. Maka saya dapat kesempatan mencoba hal yang belum pernah saya coba sebelumnya, yaitu MENDAKI LEWAT HUTAN MATI!!!. Saya bersama Frido, Ferry, Lia, Rahmat dan tentu Regina mendaki lewat Hutan Mati yang notabene nya sangat sulit didaki.

Jalur Pendakian

Pendakian melalui Hutan Mati, Papandayan

Pada pendakian saya sebelumnya, karena saat itu saya adalah peserta yang tidak memiliki hak dan memang minim pengalaman, maka saya ikut saja apa yang sudah ditentukan oleh Senior. Senior mengajak saya untuk mendaki melalui jalur biasa, dimana Pondok Salada adalah tujuan utama dan kemudian pada hari berikutnya baru mengunjungi Hutan Mati. Tapi saya sebaliknya, saya sengaja membuat nya terbalik menjadi ke Hutan Mati dahulu baru ke Pondok Salada. Rencana saya untuk salah arah ini, sebenarnya tidak diketahui oleh 5 orang lainnya yang mengikuti saya. Egois, tapi sepertinya teman-teman yang saya arahkan nampak puas dengan keputusan sepihak saya ini. TAPI, SIKAP SEPERTI INI SEBENARNYA TIDAK BAIK, SAYA MENGAKU SALAH.

Menurut saya pendakian menuju Pondok Salada melalui jalur Hutan Mati sebenarnya lebih dekat karena tidak harus berputar-putar, namun seperti yang saya katakan tadi, agak berbahaya karena jalur ini memang curam dan tidak banyak yang melalui nya. Biasanya Pendaki justru melalui jalur ini untuk turun, bukan mendaki. Well, akhirnya rasa penasaran saya terobati, mengingat memang ada beberapa blog yang pernah saya baca mengenai pendakian melalui jalur ini dan akhirnya saya sendiri bisa merasakannya, hehehe :p.

PEMBAGIAN TUGAS

Seperti tugas ketua pada umumnya, setiba nya di Pondok Salada saya membagi beberapa tugas seperti pengumpulan logistik, mengumpulkan sampah, mencari kayu, memasak hingga kelompok untuk tidur di tenda. Hari Sabtu, tidak banyak hal yang kami lakukan selain mendirikan tenda. Kesalahan fatal ketika perlengkapan untuk mengisi acara, bermain game tidak saya bawa alias ketinggalan. Bingung melanda, saya berkeliling bertanya Lia, Regina dan Frido untuk memberi ide, namun nampaknya semua buntu karena efek ketinggian #OON #Alibi HAHAHA.

Istirahat

Istirahat selepas tiba di Pondok Salada dan mendirikan tenda

Jam 1 siang, selepas makan siang dan beberapa hal lain, saya membebaskan team pertama yang dipimpin Sufi, yaitu Riska, Emma dan Ruben ditambah Ferry, menjadi imbang 5 orang, untuk pergi mencari pemandangan atau hal lainnya. Menurut wawancara saya dengan Sufi yang bisa dilihat di video, Sufi mengajak kelompoknya untuk pergi menuju Hutan Mati, Tegal Alun dan kemudian ke Puncak Bayangan. Sebenarnya saya membebaskan semua anggota untuk melakukan apa pun yang mereka mau, karena saya memang tidak ada ide saat itu. Destinasi hutan mati, sepertinya tidak terlalu menarik bagi Frido, Rahmat, Regina dan Lia. Maka kami putuskan untuk stay di tenda dan bereksperimen dengan logistik yang kami bawa.

FATAL, KEBUTUHAN PENTING TERLUPAKAN!

Tidak hanya perlengkapan untuk mengisi acara yang tertinggal, tapi kebutuhan memasak pun sepertinya begitu. Minya goreng untuk sekedar menggoreng telur, tidak ada, terlupakan. INI PENTING YAK KAWAN, HARAP DICATAT JIKA MENDAKI KEMBALI. Pastikan kompor untuk memasak menyala dengan baik, gas penuh, nasting, logistik yang kita bawa berguna (semisal ketika kita bawa sesuatu untuk digoreng, YA HARUS BAWA MINYAK GORENG!!! Minimal Margarin. Tips itu supaya tidak diomongin negatif sama penghuni tenda sebelah (wkwkwkwk – mereka pikir diantara kami tidak ada yang bisa berbahasa Sunda, saya mengerti apa yang mereka bicarakan). Intinya, kelompok kami dibilang tidak baik karena sempat meminta minyak goreng 3 sendok makan. Tapi, yasudahlah… saya sadari kelompok kami memang salah dan sesekali dikritik harus terima.

Memasuki pukul 5 sore, udara dingin mulai semakin menusuk kulit. Kelompok Sufi nampak sudah kembali dari petualangannya, saya dan kelompok yang tinggal di tenda mulai menyalakan api untuk membakar sampah agar tidak menumpuk selepas memasak tadi, tentunya untuk menghangatkan diri juga.

API UNGGUN

Regina sempat menertawakan ittinerary yang saya buat mengenai event “Api Unggun”, tapi pada akhirnya sepertinya semua sepakat bahwa Api Unggun memang penting ketika berkemah di Gunung. Dingin cuy, gilakkk!!!

Mendekatkan diri pada api unggun, saya sangat bersyukur bisa mengamati wajah-wajah lelah namun tetap semangat dalam keremangan malam. Seolah momen ramah ini sangat ingin ku tahan agar berhenti lebih lama. Senyum dan tawa menghiasai obrolan malam di sekeliling api unggun, pun yang kebagian tugas untuk memasak. Riska yang tidak terlalu ku kenal dekat di Kampus, membuat momen malam itu seperti berulang pada tahun 2009 lalu, dimana saya adalah Maba dan Riska senior nya (Saya dan Riska berasal dari satu kampus beda jurusan, namun CS mempertemukan kami). Ruben dan Emma, dua bule inggris yang ikut serta menjadi contoh gambaran keramahan khas Indonesia malam itu yang ditunjukkan oleh kami semua sebagai putera/puteri Indonesia. Ruben dan Emma nampak senang meski lelah bisa ikut berdiskusi dengan semua.

Sebetulnya ada kejadian yang membuat Ruben dan Emma kesal hingga mengkerutkan dahi, pertama diskriminasi tarif angkutan yang akan dimahalkan, tapi saya berusaha untuk menangani itu. Masalah kedua ketika memasuki Pos Pendakian, penjaga padahal sudah melihat ada 2 bule yang mengikuti rombongan saya, namun baru diungkit ketika saya harus mengisi form pendakian, di sana Emma dan Ruben dibebankan tarif yang tidak wajar menurut saya hampir 8 kali lipat dari tarif turis domestik. Penting sih memang untuk menaikkan tarif bagi warga asing, tapi harusnya tidak terlalu jauh dengan tarif warga lokal dan tidak mengubah kesepakatan awal sebelumnya. Plin-plan, itu yang juga membuat saya cukup kesal pada pengelola pariwisata Papandayan.

Well, lupakan masalah tadi pagi, sampailah kami pada penghujung malam. Usai api unggun dan makan malam, serta diskusi kecil yang membuat tertawa saya himbau ke semua anggota untuk tidur, mengingat sepertinya kami semua memang kurang istirahat. Sambil ancang-ancang menyiapkan tenaga untuk kegiatan besok, menuju puncak… gemilang cahaya, menyatu janji #Eh #SalahFokus. Yah, pokoknya kami semua harus istirahat malam itu, untuk sekedar menyimpan tenaga dan menghangatkan diri di dalam tenda.

MINGGU, 8 SEPTEMBER 2013

Terbangun jam 4 pagi, seperti biasanya alarm saya selalu berbunyi pada jam tersebut setiap harinya. Terlebih lagi udara dingin memang membuat tidur saya tidak begitu nyenyak, melihat termometer di handphone saya, pagi itu menunjukkan suhu 10’C. Waaw, sangat ekstrim untuk suhu musim kemarau. Entah handphone saya ngaco atau tidak, tapi yang pasti saat itu memang terasa dingin sekali. Kaki saya sudah memakai kaos kaki double, tapi masih berasa berjalan menapaki balok es, dingin dan sakit menusuk hingga ke tulang rasanya. Terlebih bagi orang-orang kurus seperti saya, memang sangat berasa dinginnya. Khawatir pun menghinggapi pikiran saya pada Rahmat yang sama sekali tidak terlalu saya kenal, apakah dia bisa tidur dengan suhu se-ekstrim itu. Ternyata benar saja, Rahmat tidak bisa tidur dan berusaha keliling mencari tenda lain yang masih menyalakan api unggun nya untuk sekedar menghangatkan diri. Maaf Rahmat, sudah menyusahkan. Semoga ini menjadi pengalaman berharga, bagi saya sebagai ketua dan tentu Rahmat sendiri sebagai pembuat keputusan untuk bergabung dengan kelompok kami.

Istirahat

Istirahat menuju Tegal Alun

Udara dingin sepertinya membuat kami enggan bergerak jauh, ditambah kabut yang membuat jalan tidak terlalu jelas terlihat. Penerangan pada akhirnya dibantu matahari dan kebetulan yang saya ingat, Papandayan memang tidak memiliki Sunrise yang cukup baik. Sekedar bagus saja, bagi saya pribadi yang sebelumnya sudah melihat sunrise dari hutan mati, biasa saja, tidak ada yang special. Jam 5.30, saya, Frido, Rahmat, Lia memutuskan berangkat ber-empat, Regina bilang dia tidak kuat untuk berjalan jauh pagi itu. Mungkin karena dinginnya memang keterlaluan bagi mahluk Jakarta yang terbiasa kepanasan.

Perjalanan menuju Hutan Mati tidak memakan waktu yang lama, kami mampu mencapai hutan mati hanya 25 menit saja. Mengingat, semua anggota team saya memang sudah saya ajak melalui titik itu kemarin ketika mendaki. Lia satu-satu nya perempuan yang ikut dalam kelompok kedua yang keliling area Papandayan pun nampak bersemangat, maklum saja, Lia adalah anak Kota Malang yang dekat dengan daerah pegunungan juga, sama seperti Riska. Gunung Papandayan saja? cetek lah!

Hutan Mati

Hutan Mati, Papandayan

Tiba dihutan mati, saya mengambil beberapa gambar. Tentu Frido, Rahmat dan Lia juga. Layaknya orang Indonesia yang baru saja melihat hal baru, pasti harus diabadikan dalam kamera #Typical #Tampol :P. Suasana hutan mati pun banyak berubah, seingat saya dulu masih ada air biru kehijauan yang sangat sedap dipandang mata, namun musim kemarau kali ini membuat kondisi hutan mati benar-benar kering.

Tak banyak yang bisa kami lakukan di Hutan Mati, selain hal wajib tadi, berfoto. Kami melanjutkan menuju Tegal Alun, ini lah tempat wajib lainnya yang harus dikunjungi ketika berkunjung ke Papandayan. Memori saya sejenak kembali pada saat saya tiba pertama kali di Tegal Alun beberapa tahun lalu, hamparan Edelweis yang wangi membuat pikiran segar dan tenang. Sempat lupa bagaimana menuju Tegal Alun, saya bertanya pada beberapa pemuda yang melalui jalur yang kami lalui, maka semakin jelas bahwa saya menuju jalan yang benar.

TANJAKAN MAMANG

Tanjakan Mamang

Tanjakan Mamang, Papandayan.

Saya ingat kemarin Riska mengeluh tentang titik ini, hihihi. Tanjakan Mamang memang sangat curam, bahkan menurut saya sangat sulit dilalui. Kontur pasir berdebu yang rapuh, sekelilingnya jurang membuat kita harus ekstra hati-hati menanjaki Tanjakan Mamang. Berkat tanjakan ini, kami menghabiskan waktu cukup lama menuju Tegal Alun. Padahal menurut saya jarak Tanjakan Mamang dari Hutan Mati tidak terlalu jauh. Tapi apa boleh buat, memang seperti itu medannya.

TEGAL ALUN

Hamparan edelweiss yang sangat luas membuat saya betah berlama-lama di sini, bahkan ketika tiba di Tegal Alun sudah banyak pendaki lain yang sedang berjemur dan sekedar keliling mengambil gambar, tidak terkecuali saya, Frido, Rahmat dan Lia. Sayang sekali Regina tidak mencicipi Tegal Alun, mungkin di kesempatan selanjutnya. Kami tentu bisa berharap melakukan perjalanan bersama kembali.

Tegal Alun

Tegal Alun, Papandayan

Menuju puncak utama pun sepertinya harus kami batalkan, mengingat kami tidak membawa bekal apa-apa, kecuali kamera. Saking semangatnya, sampai lupa bawa minum, makanan sih bawa. ZOONNKKKK!!!. Gawat jika kami harus mendapat sindiran kedua, setelah yang pertama karena minyak goreng, masa saya sebagai ketua tidak belajar. Sampai titik bayangan, saya putuskan kembali ke Pondok Salada, mengingat saya sudah berjanji dengan teman-teman yang berjaga di tenda untuk segera kembali di bawah jam 9.

Tegal Alun

Tegal Alun, Papandayan

Benar saja, ketika kami tiba kembali ke Pondok Salada, tenda sudah siap-siap ditutup. Tidak terlambat, karena kami tiba pukul 8.30. Kami pun bergegas berkemas, menyalakan api kembali untuk membakar sampah agar beban kami untuk turun ke Pos Pendakian berkurang. Kami putuskan untuk turun melalui jalur konvensional, karena Regina menolak untuk menuruti ke-egoisan saya kembali untuk turun melalui Hutan Mati.

MENUJU JAKARTA

Perjalanan pulang kami lalui sesuai rencana pada ittinerary yang saya buat, kecuali satu hal. Ban bus pecah. Itu sama sekali tidak ada dalam rencana saya, hingga akhirnya kami pun terjebak kemacetan karena bus sempat tertunda 1.5 jam untuk mengganti ban baru, ada-ada saja.

Kami pun belajar banyak hal pada akhirnya, karena itulah tujuan awal perjalanan ini. Mempelajari apa yang tak biasa, namun membawa dampak positif bagi kita semua. Saya harus memahami kondisi lingkungan, anggota dan segala hal yang mendesak ketika dibutuhkan sebagai ketua acara. Saya pun banyak belajar dari Regina, bahwa jika kita optimis, pasti semua bisa dilalui dengan baik.

Entah, mungkin ada pelajaran yang bisa diambil oleh teman-teman satu sama lainnya. Sejujurnya saya banyak belajar dan masih lemah, dan tak mungkin rasanya jika saya ceritakan semua di sini. Yang pasti saya senang dan puas bisa meng-handle semua ini, meski masih banyak kekurangan.

OVERALL, TERIMA KASIH SEMUA NYA!!!
REGINA, SUFI, RISKA, LIA, FRIDO, RUBEN, EMMA, FERRY DAN RAHMAT. SAMPAI BERTEMU KEMBALI PADA PERJALANAN SELANJUTNYA.

 

CS ID : https://www.couchsurfing.org/people/izarbaik
Twitter ID : @izarbaik

Supported byFLIGHT 001 Gandaria City | Plaza Indonesia
https://www.facebook.com/Flight001Asia

Flight 001 : Travel Products

Flight 001 : Travel Products

Advertisements