just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Posts tagged ‘Movie’

Journey To Jah – Review

Journey To Jah (Poster from www.journeytojah-film.com)

Journey To Jah (Poster from http://www.journeytojah-film.com)

Judul Film : Journey To Jah
Sutradara : Noël Dernesch dan Moritz Springer
Menampilkan : Tilmann Otto (Gentleman), Alberto D’Ascola (Alborosie), Theresa Williams (Terry Lynn), Prof. Dr. Carolyn Cooper, Devon Gayle (Natty), Richard Stephenson (Richie Stevens), Balfour Constantin Bailey (Jack Radics), Damian Marley.
Tanggal Rilis : September 2013 (SWISS)
Durasi : 92 menit
Genre : Dokumenter, Musik.

Review

Cukup beruntung bagi saya untuk bisa menghadiri acara Pembukaan German Cinema 2014, karena nya saya bisa bertemu tatap muka langsung dengan Noël Dernesch, salah satu sutradara dari film ini. Melalui wawancara singkat Noël dengan Melissa Karim (MC Pembuka), menjadi hal yang sangat menarik bagi saya untuk tidak melewatkan penayangannya karena film ini digarap selama 7 tahun oleh sang sutradara bersama rekan sutradara lainnya, Moritz Springer. Dan, semakin membuat saya penasaran ketika Noël secara terbuka mengakui bahwa dirinya tidak begitu tertarik pada music Reggae pada awalnya, kemudian proses pembuatan film ini lah yang menjadi awal kecintaannya terhadap genre musik reggae. Hmm… Noel seperti memberikan kunci bahwa film ini bisa mempengaruhi banyak orang, termasuk dirinya sendiri.

Pada penayangannya di GoetheHaus, saya kembali merasa sangat beruntung bisa menyaksikan RAS Muhammad tampil membuka acara secara live, seperti memberi kunci kembali bahwa film ini akan berjalan seperti apa. Ditambahkan pula oleh Egar, sang vokalis bahwa Tilmann Otto (Gentleman) dan Alberto D‘Ascola (Alborosie) merupakan insporator bagi dirinya meskipun beliau sendiri belum pernah menyaksikan film Journey To Jah ini. Dalam hati dan pikiran saya, film ini pasti lah sangat besar pengaruhnya bagi siapa pun yang menonton. Apakah saya salah satu nya?

Film sendiri, dibuka dengan penampilan live Gentleman dan Alborosie pada sebuah panggung besar di tengah masyarakat Jamaika. Menjadi titik mula pula bagi saya menyadari dua hal kontras di depan mata, kulit putih dan kulit hitam. Tapi kedua nya seolah tanpa penghalang, bersatu dalam satu dunia yaitu musik. Genre musik yang menurut saya cukup asing bagi warga kulit putih untuk dibawakan oleh mereka sendiri, namun seolah tak berlaku bagi Gentleman dan Alborosie.

Dalam perjalanan nya, Gentleman yang berasal dari German dan Alborosie dari Italia menyajikan banyak pelajaran bagi saya pribadi, pencarian diri mereka akan kesejatian hidup di tanah Rastafari dan Reggae, Jamaika dengan meninggalkan kehidupan mainstream masyarakat Eropa dan membantu masyarakat Jamaika dengan cara mereka. Kemudian mengenal satu jenis musik yang mengubah cara berfikir mereka terhadap lingkungan, bahkan terhadap diri mereka sendiri dalam perjalanan menuju surga (kehidupan yang lebih baik). Albarosie bahkan sempat berceloteh bahwa awalnya beliau hanya ingin liburan saja ke Jamaika, namun nyata nya beliau menemukan sesuatu yang lain di tanah itu dan menetap dari tahun 1999 hingga 2013 ketika wawancara dilakukan. Di satu sisi, Richie Stephens menyanjung kemampuan Gentleman yang begitu fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jamaika. Wah, benar-benar totalitas ini nama nya (celoteh saya dalam hati).

Negeri yang indah bernama Jamaika, seringkali terdengar gejolak di tengah masyarakat yang saling membunuh, pemerintahan yang korup atau isu-isu krusial lain menjadi satu dalam satu bahasa, musik. Dalam benak, saya hanya berfikir bahwa film ini akan banyak bercerita tentang proses pembuatan musik reggae dan bagaimana memasarkannya di tanah yang bukan area bagi Gentleman dan Albarosie sendiri. Ternyata film ini jauh lebih besar dari itu, film tentang bagaimana besarnya musik menyuarakan banyak hal, termasuk kemiskinan, kritik terhadap pemerintahan korup, issue gender dan masih banyak hal lainnya yang bisa ditarik dari kehidupan sosial di Jamaika sendiri, seperti yang disampaikan oleh Professor Carolyn Cooper.

Tata kamera yang disajikan oleh Marcus Winterbauer membuat hati dan pikiran saya semakin dekat dengan film ini, membuat isu-isu yang ada di Jamaika terlihat semakin nyata dan terbuka pula. Contohnya kehidupan kota Kingston yang miskin, namun ramah bersahabat. Menjadi awal mula kembali bagi saya untuk mengenal sisi lain Jamaika selain reggae nya.

Sebaik apapun sebuah film, tentu tak luput dari kritik, pun bagi saya yang menyadari ada beberapa kekurangan dalam film ini. Semisal scene dimana Terry Lynn tampil diberbagai kelab di Jerman. Bagi saya, bagian itu menjadi seperti pembalasan bagi orang Jamaika yang ingin melakukan ekspansi karya, seperti halnya yang dilakukan oleh Gentleman di Jamaika. Bisa-bisa saja sih, lalu kenapa? Tidak ada poin penting yang bisa kita ambil dari scene tersebut karena Terry Lynn sendiri masih begitu kuat memegang kental budaya Jamaika tapi tak terlalu banyak tahu tentang Jerman, beda hal dengan yang dilakukan oleh Gentleman dan Alborosie.

Secara keseluruhan, saya sangat puas menyaksikan film ini di GoetheHaus. Lalu apa yang saya dapatkan? Sama halnya dengan Sang Sutradara, Egar (Ras Muhammad), Gentleman, Alborosie dan tokoh lain yang terlibat, film ini memberikan inspirasi bagi saya. Semangat menuju kehidupan yang lebih baik dan menjadi pribadi yang baik pula, bagi diri sendiri dan masyarakat pada umum nya.

Fenster zum Sommer

Opening Ticket of German Cinema

Nina Hoss (Fenster Zum Sommer) at Opening Ticket of German Cinema 2014.

Movie Title : Fenster zum Sommer | Summer Window (English)
Director and Writer : Hendrik Handloegten | Hannelore Valencak (Novel)
Stars : Nina Hoss, Mark Waschke, Fritzi Haberlandt.
Release Date : November, 3rd 2011 (GERMANY)
Duration : 96 minutes
Genre : Drama

Review

I was lucky to get to see the film at the opening day of Cinema German in Jakarta. But, I might say that I’m a bit dissapointed about the movie plot. Eh?

Well, okay the film was unpredictable, but what then? Nothing specific to win my attention at all. The conflict and the solution were so lame as the opening film. I was guessing that Blue Jasmine (Cate Blanchett) was inspired by this film/novel due to the plot which is forward and backward like it’s trying to twist us, but I am totally wrong since there’s no socialite lifestyle in it. It’s drama about what will you do if you have the second chance to get things right? Give up on fate or doing something different.

All my attention went to the nature and how nice the camera took it all. Beside the supporting role acting (Fritzi) which was better than the main role (Nina) -Sorry, But I should be honest. Fritzi was attract me with her superb acting. She deserves to win any award for her role in this film.

Let’s say, the interesting part of the film was when Juliane handles the situations which will lead you to the climax of the film (which was not fresh in my opinion).

Watching Highway

Highway | IMDB

Highway | IMDB

Movie Title : HIGHWAY
Director and Writer : Imtiaz Ali
Stars : Alia Bhatt, Randeep Hooda, Durgesh Kumar, Arjon Maholtra, etc.
Release Date : February, 21st 2014 (INDIA)
Duration : 133 minutes
Genre : Drama | Romance

 

Review

The film portrays two persons aggrieved with the happenings in their life coming together incidentally and search for freedom and peace in their own way.

The depiction of the slow change in the feelings between the main character (Veera and Mahabir) is smooth and realistic enough for their rather diverse backgrounds.

Actually, I don’t really like the girl performance in few scenes. But, she paid it at the climax scene, where it is crucial.

Good use of the plot to show scenic beauties of the high north. It should also be appreciated for highlighting one of the serious societal problems India is facing for a long time, now.

Watching Highway

View on Path