just another trash of my head, based on what I see and feel about…

Posts tagged ‘Puisi’

I’m Sorry

Apologize

Pic Source : Photobucket.

Hey! I’m shouting to my self.
But, suddenly silent comes along.
I said I’m sorry silently to the mirror.
Yeah, it’s me for what I’ve done.

This confusion sometimes makes you feel alone.
I dunno, I smile, I laugh to the people who I always to be with.
This is just another reflection, drama instead.
I said more, I’m sorry for what I’ve done to you, my self.

Last morning, The mirror said I look like a shit.
I was hurting you, I was lying on you, my self.
All I can say is, I’m sorry.
You know there’s no regret in my head, logically just say sorry.

Advertisements

Tidak kah Tuhan kita mencipta?

Hening,
Kosong yang lapang semakin merambah.
Tidak kah Tuhan kita mencipta rasa?

Adil,
Setiap kehidupan harus sama dan bersuara
Tidak kah Tuhan kita mencipta masa?

Berlari,
Teriak jiwa kosong berputar-putar mencari perhentian
Tidak kah Tuhan kita mencipta jiwa?

Mati,
Sungguh memalukan jika ia datang cepat membawa karya
Tidak kah Tuhan kita mencipta surga?

Salam Mentari

Tapak
Saat mentari datang dengan senyumnya
Sapa dunia
Berkata “ini tak mudah, namun akan baik-baik saja”.

Berjalan
Mentari semakin hangat bercengkrama di tengah
Tegur dunia
Berkata “aku semakin kokoh, menegaskan masa”.

Tertidur
Hangatnya berubah ramah dan sayup
Salam haru
Berkata “maaf jika aku tak selalu ada untukmu”.

Sembilan Juli 2006

9 Juli, 6 tahun lalu
Kau tentu ingat itu, Biru
Sudah ku pastikan, kau pun hampir marah padaku
Tentang hari ini, yang hampir berlalu

Aku tidak bermaksud begitu
Tapi, aku hampir saja tidak bisa melanjutkan
Kau akan lebih marah lagi, kan?
Jika aku berhenti karena mu

Hari ini aku bertahan
Sedikit keras meski 6 tahun sudah berlalu
Biru, kau tetap yang terbaik, meski harus di sisi-Nya
Lirih ucapku, lalu ku tadah tanganku

“Kau Yang Maha Baik,
aku tahu Biru ku lebih baik jika bersama-Mu.
Berikan tempat terbaik,
seperti dia meninggalkan jejak untuk ku”

Rindu Biru

kau tahu biru?
beberapa hari terakhir aku begitu benci kimia
reaksi itu membuat ku tak biasa
ada rasa rindu

kau tahu biru?
aku tak ingin berubah ketika dewasa
tapi reaksi kimia memaksa
karena ada kamu

tak ingin ku salahkan waktu
karena kimia meliputi dunia, pun rasa
tapi waktu membawamu tak terjamah
pada jarak terjauh

biar ku simpan saja rasa rindu
karena aku tahu kau merasakan hal sama
kimia yang mengatakan perubahan hatimu atas kebekuan
aku rindu, lalu ku tunggu

Untukmu, Biru

Untuk mu biru
Betapa rindu aku lama tak jumpa, pun suara mu
Senyum mu yang meneduhkan kesalahan ku
Tak sepenuhnya kau perlihatkan, tapi aku tahu

Jagalah diri mu
Setidaknya agar aku senang bila kau begitu
Membiarkan mu tanpa kabar dari ku
Hanya khawatir teramat dalam, apa aku baik untuk mu

Biru
Kita harus mengakhiri waktu
Aku melepaskan mu, membiarkan mu mencari yang terbaik
Dan aku tahu itu bukan aku

Untuk mu biru
Aku cukup bahagia mengenal dan pernah dekat dengan mu
Tak ada harapan lebih, karena aku malu berharap begitu
Semoga kau bahagia, dengan waktu mu

Kesetiaan Gerimis

Aku menunggunya di kala datang gerimis
Entah aku bagai anjing yang setia
Membodohi diri dengan sesuatu yang tak pasti datang
Sejujurnya aku pun tak tahu apa seharusnya

Di balik jendela di tengah gerimis
Senyum air terbiaskan sang surya
Aku yang tak terlalu kuat hanya menatapi nasib malang
Sejujurnya aku ingin membunuh ketidakmampuan

Kesetiaan ini untuk apa bila harus ada tangis
Menunggu sekali lagi bagai anjing yang setia
Sudah lama aku begini, semua terlarang
Sejujurnya aku takut hari esok yang pasti menyapa

Aku duduk di kala sinar sang surya mulai menipis
Kemudian sujudku pada-Nya
Aku malu dan sungguh merasa berhutang
Pada tujuan Dia, yang memberiku nafas dan kemampuan